Semakin Dekat dengan Pembaca

Penataan Dapil di Trenggalek, Ketua Komisi I Alwi Burhanuddin Pengin Tujuh Dapil

TRENGGALEK – Pesta demokrasi tersisa 425 hari lagi. Tahapan pemilihan umum (pemilu) 2024 sudah melampaui tahap uji publik dalam upaya penyusunan daerah pemilihan (dapil). Ternyata ini menimbulkan tarik ulur.

Dari tiga rancangan dapil yang ditawarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Trenggalek, Bersumber dari lampiran 1 berita acara KPU Trenggalek Nomor Rancangan Awal tentang Rancangan Penataan Dapil dan Alokasi Kursi Anggota DPRD Kabupaten Trenggalek dalam Pemilu 2024.

Telah disepakati kelima komisioner bahwa dapil terbagi menjadi tiga rancangan.

Pada rancangan satu sama dengan pesta demokrasi sebelum-sebelumnya, yakni empat dapil.

Rinciannya Trenggalek I, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, Pogalan, dan Durenan; Trenggalek II, Kecamatan Kampak, Watulimo, dan Gandusari; Trenggalek III, Panggul, Munjungan, dan Dongko; Trenggalek IV, Kecamatan Pule, Tugu, Karangan, dan Suruh.

Pada rancangan dua, penyusunan dapil terbagi menjadi lima dapil. Trenggalek I, Kecamatan Karangan, Bendungan, Trenggalek; Trenggalek II, Kecamatan Gandusari, Pogalan, Durenan; Trenggalek III, Kecamatan Munjungan, Kampak, Watulimo; Trenggalek IV, Kecamatan Panggul, Dongko; Trenggalek V, Pule, Tugu, Suruh.

Sementara pada rancangan tiga, penyusunan dapil terbagi jadi enam dapil. Trenggalek I, Kecamatan Tugu, Bendungan, Trenggalek; Trenggalek II, Kecamatan Pogalan, Durenan; Trengalek III, Kecamatan Karangan, Gandusari, Suruh; Trenggalek IV, Kecamatan Dongko, Kampak; Trenggalek V, Munjungan, Watulimo; Trenggalek VI, Kecamatan Panggul, Pule.

Dari ketiga rancangan, Ketua Komisi I DPRD Trenggalek Alwi Burhanuddin mengakui bahwa ketika ada rancangan yang membagi menjadi tujuh dapil, maka dirinya akan memilih rancangan tersebut. Dalam pertimbangannya, tiap dua kecamatan di Trenggalek, maka terdapat satu dapil.

“Melihat aspirasi yang berkembang bahwa masyarakat ingin dekat dengan wakilnya,” kata Alwi.

Namun lantaran rancangan itu tidak tersedia, pihaknya kemudian memilih rancangan dua (lima dapil). Alwi membandingkan dengan rancangan tiga (enam dapil) yang kurang nyambung dengan asas integralitas.

“Watulimo dengan Munjugan, secara sosio-kultur berbeda. Kecamatan Watulimo arahnya ke Durenan dan Trengalek,” ujarnya.

Selain itu, Alwi mendasarkan pada potensi suara yang tak bisa terwakili. Dari ketiga rancangan dapil, potensi suara paling sedikit ada pada rancangan dua.

“Kalau dapil tetap, potensi suara yang tak bisa terwakili sekitar 2 ribu. Artinya ada potensi suara yang tidak terwakili oleh caleg atau kursi di DPRD. Kalau lima dapil itu 1000, sedangkan enam dapil bisa sampai 16 ribu,” jelasnya.

Kendati demikian, Alwi menilai ketiga rancangan yang ditawarkan KPU Trenggalek adalah upaya demokratisasi dalam menyambut pemilu 2024. Karena masyarakat terlibat langsung dalam menyusun dapil.

“Tetap ada manfaatnya,” ucapnya.

Ketika menyinggung unsur ketidakpastian dalam mengubah dapil di Trenggalek, dia pun membenarkan, kemungkinan besar jumlah dapil tetap karena prinsip ketujuh terkait kesinambungan dengan dapil sebelumnya.

“Masyarakat boleh mengungkapkan gagasannya untuk mempertimbangkan dapil. Sementara alasan mendasar menambah dapil, pertambahan kursi, jumlah penduduk, pemekaran wilayah. Itu yang sangat mendasar,” ujarnya.(tra/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.