Semakin Dekat dengan Pembaca

Pengalaman Sisilia Andri Soelistyani Menjadi Seorang Biarawati

KOTA BLITAR – Perjalanan panjang untuk menjadi suster dilakukan Sisilia Andri Soelistyani. Dia sudah mengabdi menjadi suster selama 17 tahun. Blitar menjadi tempat akhir pengabdiannya.

Hening. Begitu suasana yang terasa saat masuk ke Rumah Biara Roh Kudus kemarin (25/12). Di sana, seorang biarawati dengan ramah membuka pintu dan meyapa dari dalam rumah berbentuk folding gate itu. “Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” ucapnya ketika melihat wartawan Koran ini.

Setelah dia mempersilakan kami duduk, dia bergegas ke belakang untuk memanggil biarawati atau suster lain. Ya, dia adalah suster Sisilia Andri Soelistyani. Sisilia mengenakan dress putih panjang dengan overcloth berwarna navy atau baju kerja biara. Tak lupa dilengkapi dengan slayer (penutup kepala, Red) berwarna navy pula.

Perjalanan panjang dilalui Sisilia. Sebelum menjadi seorang suster, dia berprofesi sebagai seorang guru di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Surabaya. Perempuan asal Surabaya ini, merasa terpanggil untuk menjadi seorang suster saat berusia 25 tahun. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk mengikuti prosedur pendaftaran sebagai suster.

Sebenarnya, Sisilia telah bercita-cita menjadi seorang suster saat dirinya masih berusia 10 tahun. Pengalaman sederhana dari orang terdekat yang membuatnya ingin menjadi seorang suster. Dia mengaku, orang tuanya bukan pasangan yang harmonis.

Diduga hal ini karena ada kondisi ekonomi yang kurang baik, jenjang pendidikan yang berbeda, dan masalah lainnya yang membuat orang tuanya sering bertengkar. Pertengkaran orang tuanya dinilai sebagai bentuk petunjuk untuk menentukan cara hidupnya. “Dari pengalaman orang tua saya, saya berpikir apakah tidak ada cara hidup yang lain,” kata anak kedua dari lima bersaudara ini.

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), sekolahnya mengadakan kunjungan ke rumah biara. Di sana, dia tertarik dengan kehidupan suster. “Sepulang kunjungan di rumah biara, saya merekam dalam pikiran dan mengatakan kalau sudah besar ingin menjadi seperti mereka,” akunya.

Seiring bertambahnya usia, Sisilia memahami pertengkaran orang tuanya bernilai positif. Tidak hanya bertujuan untuk menyamakan pikiran, perjuangan, dan saling mencintai satu sama lain, tapi juga membuatnya tersadar untuk menjalani cara hidup yang lebih dekat dengan Tuhan.

Pada 2001 dia mengikuti pembinaan menjadi seorang suster. Memiliki latar belakang sebagai seorang guru, dia diberi tugas untuk menjadi guru di beberapa sekolah Surabaya. Sisilia mendapat gelar SSpS (Servarum Spiritus Sancti) setelah mengikuti kaul pertama, yakni pada 2005 lalu. “Menjadi suster dihitung sejak masa kaul pertama, jika dihitung dari masa pembinaan saya sudah menjalani pengalaman suster selama 21 tahun,” ujarnya.

Ada beberapa persyaratan untuk mendaftar sebagai suster. Di antaranya, perempuan, beragama katolik, belum menikah, sehat jasmani dan rohani, tidak ada riwayat penyakit menular, tidak terikat janji dengan pihak lain. “Persyaratan kesehatan menentukan termasuk riwayat penyakit fisik maupun mental. IQ harus rata-rata ke atas, karena kalau ke bawah nanti kesulitan saat manajemen konflik,” terang perempuan ramah ini.

Pada 2006, Sisilia pindah ke Blitar untuk mengajar di Sekolah Dasar (SD) Santa Maria. Namun tidak berlangsung lama, hanya empat tahun. Selanjutnya dia melakukan persiapan kaul kekal di Timor Timur pada 2010. Setelah itu, dia berkesempatan studi di Chicago, Amerika Serikat untuk pendampingan calon suster. Dia melakukan studi pendampingan ini selama 1,5 tahun.

Saat kaul kekal, dia diberi kesempatan memilih tiga daerah untuk pengabdian. Dia memilih negara yang tidak jauh dari rumahnya. Yakni, Indonesia Jawa, Indonesia Kalimantan, dan Vietnam. “Pimpinan yang berpusat di Rhoma melihat kebutuhan dan kemampuan, jika memenuhi nanti salah satu akan dikabulkan,” terang perempuan berkacamata ini.

Sisilia mengaku, sudah melaksanakan nikah rohani dengan Tuhan untuk selamanya. Dalam keyakinannya, seorang suster tidak boleh menikah. Sebab, dia sudah menghidupi tiga janji. Yakni, janji kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan. Seorang biara tidak kawin dan dikawinkan, tapi menjalani pernikahan surgawi ini. “Di akhirat nanti mengalami kebahagiaan kekal, di harap ini latihan saat hidup di dunia,” ujarnya.

Pada 2013, dia melakukan pengabdian di novisiat yang bertempat di Batu, Malang. Dia ditugaskan untuk mendampingi pembinaan calon suster di agama Katolik. Selama dua tahun, novis menjalani pembinaan di sana. Setelah enam tahun berlangsung, dia pindah ke Surabaya pada 2019. Dia diutus untuk mengabdi di rumah sakit pada bagian administrasi.

Tepatnya pada Juni 2022, dia kembali ditugaskan di Blitar. yakni di rumah biara ini dan menjadi pendamping sekolah TK dan SD Santa Maria. Dia merasa bahagia dan bersyukur selama menjadi suster. Baginya, menjadi suster membuatnya semakin bertumbuh menjadi manusia. “Dalam hidup Tuhan punya rencana untuk hambanya, saya merasa semakin menuju ke rencana Tuhan,” tandasnya. (*/hai)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.