Semakin Dekat dengan Pembaca

Penganiayaan Santri di Trenggalek Hingga Patah Tulang, Ustadz Dipolisikan

Radar Trenggalek – Pondok pesantren (ponpes) di Bumi Menak Sopal dan sekitarnya tampaknya harus melakukan pembinaan terhadap para pengajar atau ustad di lingkupnya. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kejadian penganiayaan terhadap santri di salah satu ponpes di Desa Ngulankulon, Kecamatan Pogalan, yang diduga dilakukan MDP, 17, warga Kecamatan Plaju, Palembang, Sumatera Selatan, yang merupakan seorang ustad ponpes tersebut. Akibatnya, kini kedua santri yakni GD, 14, warga Desa Tumpuk, dan LM, 15, warga Desa Ngepeh, yang keduanya di Kecamatan Tugu, tengah menjalani pemeriksaan di RSUD dr Soedomo Trenggalek akibat luka yang diduga karenapenganiayaan tersebut. “Laporan terkait dugaan penganiayaan itu telah kami terima, dan MDP telah kami tetapkan sebagai tersangka,” ungkap Kasat Reskrim Polres Trenggalek Iptu Agus Salim.
Dia melanjutkan, penetapan tersangka tersebut berdasarkan serangkaian penyelidikan oleh penyidik setelah menerima laporan tersebut. Dengan pernyataan sejumlah saksi, korban dan juga pelaku, penyidik telah memiliki dua bukti permulaan yang cukup untuk menetapkan MDP sebagai tersangka. Apalagi, ketika dimintai keterangan, MDP juga telah mengakui perbuatannya tersebut lantaran emosi karena sikap kedua korban yang tidak menghargainya ketiga ditegur. “Sebelum menetapkan tersangka, kemarin (Sabtu, 21/1-red) kami telah melakukan gelar perkara. Berdasarkanketerangan pelaku saat kejadian itu, korban dinilai tidak menjalankan kewajiban sebagai santri sehingga kemudian ditegur. Karena jawaban korban yang dinilai tidak bisa diterima membuat pelaku emosi,” katanya.

Selain itu, berdasarkan keterangan pihak pesantren tersangka MDP adalah ustad dari salah satu pesantren ternama di Ponorogo. Yang saat ini tengah menjalani masa pengabdian selama setahun di Trenggalek, sejak tahun lalu dan hampir selesai. Kendati demikian, polisi tetap melakukan proses hukum. Akibat perbuatannya, ustad tersebut dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara. “Kami akanmemproses kasus ini hingga mendapatkan putusan pengadilan,” terangnya. Sementara itu, kasus tersebut mencuat setelah ayah GD, Purwanto menerima kabar bahwa anaknya sedang dilarikan ke IGD RSUD dr Soedomo Trenggalek. Hal itu terjadi lantaran GD baru saja dianiaya oleh ustadnya. Betapa kagetnya sang orang tua sesampainya di IGD mengetahui sang anak mengalami patah di tangan bagian kiri. “Saya tidak bisa menerima kejadian ini, makanya melapor ke polisi,” imbuh Purwanto.

Itu terjadi lantaran peristiwa tersebut bermula dari kejadian yang sepele. Yaitu, saat para santri mengikuti persiapan pentas seni yang akan ditampilkan pada 28 Januari mendatang. Namun,korban dan satu rekannya masih berada di dalam kamar melakukan kegiatan pemanasan olahraga. Tiba-tiba pelaku yang mengetahui keberadaan kedua korban tersebut langsung menegur lanjut memukul hingga terjatuh. “Berdasarkan keterangan yang didapat, saat itu anak saya dibanting, hingga cedera patah tulang. Makanya saya laporkan kasus ini biar bisa digunakan sebagai pelajar agar hal serupa tidak terulang lagi,” harapnya.
Perawatan kedua korban tersebut dibenarkan Humas RSUD dr Soedomo Trenggalek Sujiono. Dia menerangkan, setelah menjalani pemeriksaan awal, untuk GD yang mengalami patah tulang tertutup pada pergelangan tangan kiri telah dilakukan tindakan operasi.Operasibedah sentral yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi dari tangan tersebut berjalan suksesdan yang bersangkutan sudah dalam keadaan sadar. Kemudian, korban LM sempat mengalami nyeri pinggang dan menjalani rawat jalan.Sebab, luka yang diderita tidak seserius GD. “Saat ini kami masih memantau, khususnya kepada pasien pascaoperasi.Semoga saja kondisi ke depan bisa berangsur membaik,” jelasnya. (jaz/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.