Semakin Dekat dengan Pembaca

Pengemis Bertebaran, Hiasi Sepanjang Persimpangan di Tulungagung

Tulungagung – Belakangan ini fenomena pengemis tersebar di simpang empat wilayah Kecamatan Tulungagung semakin menjamur. Bukan fenomena baru, meski sempat ditindak sebaran pengemis ini kembali berulang menghiasi simpang empat Kota Marmer ini. Perlu ada tindakan untuk tidak memberikan uang kepada pengemis agar putus sebaran dari pengemis tersebut.

Kepala Bidang Rahabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Tulungagung, Efif Sakti Wibowo mengatakan, maraknya fenomena pengemis tersebar di simpang empat wilayah Kecamatan Tulungagung meningkatkan risiko dalam bersosial.

Menurut dia, baik pengamen, manusia silver maupun badut, tergolong dalam kategori pengemis. “Memang harus sering-sering diadakan pembinaan dan pemantauan. Perlu dilakukan razia agar jera, kalau dibiarkan tidak baik untuk Tulungagung,” jelasnya kemarin (10/09).

Fenomena pengemis ini bukan kali pertama ada di Tulungagung. Bukan karena masalah ekonomi, berulangnya fenomena pengemis ini lantaran masalah mental dari para pelaku minta-minta.
Berdasarkan tinjauan, para pengemis ini telah menganggap rutinitas minta-minta yang dilakoninya merupakan sebuah pekerjaan instan untuk mendapatkan uang. “Bukan masalah ekonomi, ini masalah mental. Mereka sudah menganggap itu sebuah pekerjaan pekerjaan yang instan, enak dan hanya turun ke simpang empat atau ke jalan-jalan itu pendapatannya sudah lumayan banyak,” ucapnya.

Diketahui penghasilan pengemis per satu jam bisa mencapai puluhan ribu. Jauh jika dibandingkan dengan penghasilan dari pekerjaan lain yang membutuhkan tenaga serta keterampilan ekstra untuk penghasilan lebih sedikit.

Menurut dia, mentalitas tersebut membuat mereka berani untuk kembali mengemis. “Kalau berdasarkan keterangan mereka itu jika dibandingkan dengan bekerja susah payah dengan penghasilan lebih sedikit dengan memakan waktu lama,” paparnya.

Disinggung perihal penindakan dari pengemis, dia mengaku, ketika melakukan razia dengan kedinasan terkait, pihaknya telah memberikan pembekalan kepada para pengemis. Namun dari adanya Razia tidak membuat pengemis mengurungkan niat untuk kembali ke jalan malah justru sebaliknya. Bahkan tak sedikit dari mereka merubah nama serta alamat asal ketika ditanya perihal identitas. “Kita tanya identitasnya gitu, mereka pintar Mas. Hari ini mengakunya Doni, besoknya ketemu dan ditangkap dilain tempat namanya berubah,” ungkapnya.

Untuk upaya pencegahan dari fenomena pengemis tersebut yakni dengan tidak memberikan uang kepada mereka. Hal tersebut merupakan solusi paling efektif untuk memutus edaran pengemis di Tulungagung. “Bagaimana pun kalau ada pengemis di wilayah Tulungagung, jangan dikasih. Nanti kalau dikasih memberikan kesan positif bagi mereka, sehingga membuat para pengemis berasal dari luar wilayah masuk ke Tulungagung,” jelasnya.
Tidak berhenti di situ saja, ada beberapa pengemis di titik-titik tertentu memperkerjakan anak di bawah umur untuk melakoni pekerjaan minta-minta tersebut. Meski merupakan anaknya sendiri, hal tersebut tergolong tindakan eksploitasi anak dan terdapat tindak pidana pada tindakan tersebut. “Kan perbuatan itu tergolong eksploitasi anak, walau yang melakukan itu orang tuanya sendiri,” tutupnya. (mg2/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.