Semakin Dekat dengan Pembaca

Penghuni Lapas Tulungagung Terserang DBD

TULUNGAGUNG – Demam berdarah dengue (DBD) semakin marak. Bahkan upaya pengasapan (fogging) tak hanya menyasar permukiman warga, tapi juga Lapas Tulungagung Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur (Jatim).

Pengasapan tersebut terpaksa dilakukan lapas pada Selasa (15/2) kemarin, menyusul adanya satu warga binaan pemasyarakatan (WBP) dinyatakan positif DBD.

Berdasarkan pantauan Koran ini, asap fogging menyasar seluruh area kantor dan blok hunian WBP. Dalam upaya memutus penularan DBD tersebut, lapas menggandeng dinas kesehatan (dinkes) setempat.

“Ada satu kasus DBD dan sudah menjalani perawatan. Makanya, kami berkoordinasi dengan dinkes setempat untuk memutus penularannya (DBD, Red),” kata Kepala Lapas Tulungagung Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jatim, Tunggul Buwono melalui Kasi Pembinaan Narapidana-Anak dan Kegiatan Kerja (Binadik), Imam Fahmi.

Menurut dia, upaya ini harus segera dilakukan untuk mencegah dan memutus penularan DBD. Mengingat, lapas merupakan area rawan penyebaran DBD karena banyaknya penghuni yang berada dalam satu ruangan.

“Seluruh ruang kita fogging. Termasuk juga blok-blok hunian WBP,” jelasnya.

Selain itu, Fahmi kembali menggiatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Meski hingga kini belum ditemukan indikasi WBP yang tertular atau bahkan bergejala DBD.

“Sejauh pengawasan kita usai ditemukan satu kasus itu, belum ada yang bergejala DBD lagi. Semoga saja tidak,” tandasnya.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Tulungagung Didik Eka Sunarya Putra mengatakan, DBD sejatinya mulai mengancam sejak Desember tahun lalu (2021) saat musim penghujan datang. Kondisi itu menambah tempat perindukan dari nyamuk Aedes aegypti yang menjadi vektor utama penular DBD. Bahkan ditunjukkan dari jumlah kasus DBD pada Januari yang mencapai 57 kasus dengan satu kematian, sedangkan pada Februari hingga kemarin (15/2) sebanyak 38 kasus dengan satu kematian.

“Jika dilihat dari jumlah kasus di bulan yang sama di tahun lalu, ada peningkatan sedikit. Namun belum ekstrem,” katanya.

Tak ingin kasus DBD ini melonjak, pihaknya kembali menggiatkan promosi kesehatan melalui berbagai media, mulai dari ledang hingga penyuluhan kelompok. Promosi tersebut mengingatkan bahwa dalam situasi ini jangan hanya mewaspadai penularan Covid-19, tapi juga endemitas DBD yang memiliki tingkat fatalitas tinggi.

“Yang utama, apabila ada anak atau orang panas mendadak dan tinggi untuk lebih mewaspadai sebagai DBD. Karena itu harus segera diperiksakan ke fasyankes terdekat. Berbeda dengan Covid-19, apabila empat hingga lima hari tidak ditangani bisa berakibat fatal,” tandasnya.(lil/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.