Semakin Dekat dengan Pembaca

Pensiun dari Guru, Ulik Hadiyati Tekuni Usaha Nugget Ayam Tanpa Bahan Kimia

TRENGGALEK – Nugget ayam pasti disukai banyak orang, khususnya anak kecil. Maka, tidak heran saat ini banyak sekali penjual makanan cepat saji tersebut. Bukan hanya itu, saat ini banyak sekali pengusaha nugget yang memiliki produk sangat variatif dengan distribusi yang luas karena kekuatan jaringan serta modal.

Namun begitu, tak sedikit pula pengusaha nugget rumahan yang sukses meniti usaha mereka. Para pengusaha nugget rumahan ini bisa membidik pasar yang berbeda dengan produsen besar. Misalnya, mereka membuat nugget sehat. Padahal, harga nugget sehat lebih mahal karena memakai bahan-bahan terpilih. Ini seperti yang dilakukan oleh Ulik Hadiyati hampir setiap hari. “Semula hanya membuat nugget untuk anak, tapi lama-kelamaan banyak tetangga yang tahu dan memesan, hingga keterusan seperti saat ini,” ungkap Ulik Hadiyati ketika ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek di rumahnya, di Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek.

Awal mula kegiatan tersebut ditekuninya pada sekitar 2008. Saat itu, sang anak suka sekali makan nugget ayam sehingga setiap hari hampir menghabiskan satu bungkus nugget tersebut. Sejak itu dirinya mulai berpikir bagaimana cara menyiasati kesukaan sang anak, tetapi dengan harga yang lebih murah. Dari situ terpikir dalam benaknya untuk membuat nugget sendiri, karena selain harganya yang murah juga lebih sehat. Lantaran sebagai orang tua pastinya ingin memberikan yang terbaik bagi sang anak, maka bahan yang dipakai selalu berkualitas dan tanpa campuran bahan kimia. “Saat itu hampir setiap hari selalu memberi nugget bermerek. Makanya sempat berpikir, jika terus-terusan begini pastinya tidak cukup satu bulan, makanya ingin buat sendiri,” katanya.

Dengan cara itu, dia bisa memberikan makanan yang praktis bagi anak tetapi sehat. Lambat laun, tiba-tiba banyak tetangga yang tahu dan memesan untuk dibuatkan. Saat itu di tengah kesibukannya yang masih menjadi seorang guru di SMPN 3 Trenggalek, dia mencoba untuk memenuhi permintaan tersebut. Dari situ, dengan modal seadanya, dia membeli bahan baku untuk membuat nugget tersebut. Seperti daging ayam berkualitas yang telah digiling, hingga rempah-rempah dan bumbu dapur.

Untuk kebutuhan mendapat daging ayam yang berkualitas, dia bekerja sama dengan para pedagang. Dengan begitu, pada saat normal, dia tidak khawatir akan harga ayam. Namun, pada kondisi hari raya seperti Lebaran dan Natal akan ada kenaikan harga sekitar 30 persen. Dengan ketekunannya tersebut, usaha pembuatan nuggetnya sudah dikenal, hingga ada beberapa sekolah dan toko di Trenggalek dan sekitarnya yang menjadi langganan. Sebab, sekolah tersebut termasuk jenis sekolah full day sehingga pesanan itu untuk makan siang para muridnya.

Dengan banyaknya pesanan tersebut, dia mencoba untuk mengurus perizinan produknya agar bisa masuk pasar modern. Namun sayang, ketika mengurus perizinan, dia memiliki kendala pada jenis produk. Sebab, untuk jenis frozen food, pengurusan izin hanya bisa dilakukan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), tidak bisa hanya Produk Industri Rumah Tangga (PIRT). Dengan demikian, hal tersebut urung dilakukan karena keterbatasan modal. “Saya hanya menjalankan usaha rumahan sehingga pastinya rugi jika mengurus ke BPOM. Makanya, saat ini hanya terus mencoba agar bisa bertahan,” imbuh wanita 63 tahun tersebut.

Kendati demikian, nenek enam cucu tersebut terus bertekad untuk mempertahankan kualitas produknya. Sebab, sasaran pasar adalah anak-anak sehingga bahan harus berkualitas dan tanpa pengawet. Dari situ, saat ini dia mendapatkan keuntungan sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta setiap bulannya. Jumlah tersebut akan bertambah di hari-hari tertentu ketika banyak pesanan. “Karena usaha rumahan, saya tidak berani memproduksi banyak. Sebab, kendati masih bisa dimakan karena disimpan di freezer, tetapi jika telah lama akan memengaruhi rasa,” jelasnya. (*/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.