Semakin Dekat dengan Pembaca

Penyebaran Penyakit DBD, Hingga Saat Ini Belum Ada Obat dan Vaksin Khusus

Tulungagung – Sudah puluhan tahun penyakit demam berdarah dengue (DBD) masuk dan menjangkit masyarakat Indonesia. Namun, hingga kini masih belum terdapat obat atau vaksin khusus untuk mengatasi peredaran penyakit tersebut. Diketahui, penyakit tersebut dapat mengancam nyawa dari penderitanya dan di awal tahun 2023 sudah terdapat satu korban meninggal akibat penyakit tersebut.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Didik Eka mengatakan, setelah berjalan hingga sepuluh hari pertama di awal tahun 2023 ini, perkembangan DBD telah mengalami penurunan. Diketahui, kini tersisa tiga kasus DBD dengan satu kasus kematian akibat penyakit tersebut. “Apalagi jika dibandingkan dengan Januari tahun 2022 kemarin itu yang mencapai 57 kasus. Kalau di tahun ini alhamdulillah terkendali, baru ada tiga kasus di sepuluh hari pertama ini,” jelasnya kemarin (10/1).

Kemudian, upaya untuk pengendalian DBD ini yaitu dengan penyuluhan, larvasidasi, dan fogging asap. Tidak hanya itu, tak kalah pentingnya untuk melakukan sebuah gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). “Melakukan gerakan PSN massal oleh masyarakat itu juga tak kalah pentingnya. Jadi ya tidak hanya penyuluhan, larvasidasi, dan fogging saja,” ucapnya.

Berdasarkan kasus sebaran, penyakit DBD ini didominasi pada wilayah padat penduduk di Tulungagung.
Menurut dia, wilayah perkotaan serta wilayah yang terdapat banyak genangan air yang dibiarkan menjadi kantong-kantong dari kasus DBD ini. “Hampir sama, tetapi kecamatan yang tertinggi biasanya di Kecamatan Tulungagung, Kedungwaru, Boyolangu, dan Bandung. Selain kecamatan itu, kasusnya sedikit,” paparnya.

Disinggung perihal bahayanya penyakit DBD bagi kesehatan masyarakat, dia mengaku, DBD merupakan penyakit yang disebabkan virus. Virus itu memiliki beragam varian. “Karena beragamnya varian itu, jadi tidak bisa membentuk sistem kekebalan yang lama. Artinya, kalau saya bulan ini terkena virus gen 1, kemudian di bulan keenam saya terkena virus gen 2, itu saya tetap sakit DBD,” ungkapnya.

Meski telah menjadi endemik, diketahui hingga saat ini belum terdapat obat khusus maupun vaksin untuk penyakit DBD. Hal itu menjadikan tingkat kewaspadaan pada penyakit DBD tinggi. “Apabila salah satu keluarga ada yang terkena DBD ini sangat riskan sekali menyebabkan fatalitas atau kematian. Ini yang harus diwaspadai masyarakat Tulungagung,” paparnya.

Adapun langkah untuk mewaspadai penyakit DBD ini dengan waspada gejala DBD. Seperti mengalami peningkatan suhu tubuh secara mendadak, pegal-pegal di persendian, hingga pendarahan. Diketahui, perawatan penyakit DBD hanya dengan melakukan suportif simtomatik. Artinya, langkah medis untuk menghindari dari potensi kegawatdaruratan seperti kebocoran plasma. “Kalau mengalami gejala-gejala DBD segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Tidak membunuh virusnya, hanya mengendalikan agar tidak terjadi kematian,” tutupnya. (mg2/c1/din)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.