Semakin Dekat dengan Pembaca

Perjalanan Hidup Lutfi Azizah dari Ojek Online, Kini Miliki 6 Ribu Pelanggan dan Pekerjakan 50 Orang

TULUNGAGUNG- Impitan ekonomi menjadi alasan Lutfi Azizah mau menjadi tukang ojek, meski lazimnya pekerjaan tersebut dilakoni kaum adam. Sebagai single mom, pekerjaan sebelumnya menjadi honorer tidak mampu memenuhi kebutuhan satu anaknya dan orang tua yang sedang sakit saat itu. Utangnya semakin menumpuk dan mengharuskannya mencari pekerjaan lain.

“Sebelum ngojek pernah memulai bisnis makanan, tapi sepertinya rezekinya belum di situ, akhirnya gagal saya akhiri,” kata Lutfi, sapaan akrab Lutfi Azizah.
Tahun 2015 lalu, Lutfi nekat mendirikan sebuah usaha ojek dan jasa delivery. Konsepnya terinspirasi dengan bisnis jasa ojek yang sudah ada di kota-kota besar Indonesia, kendati belum masuk ke Tulungagung layaknya sekarang. Meski di awal hanya dialah operator sekaligus driver-nya, dia tidak ada rasa malu sama sekali. Karena prinsipnya, kalau mengedepankan rasa malu, maka kelaparanlah yang bakal terjadi.

“Tiga hari pertama saya ngojek, praktis tidak ada sama sekali yang order. Karena mungkin belum ada yang tau dan hanya mengandalkan Blackberry Messenger (BBM) sehingga masih terbatas. Juga tidak menggunakan aplikasi canggih layaknya startup unicorn di Indonesia, hanya mengandalkan mouth to mouth,” ungkapnya.

Dia mengamini hal paling susah dalam usaha yang dijalankan awalnya adalah mengenalkan Zendo Tulungagung kepada masyarakat luas. Namun, ketika masyarakat mengerti dan merasakan manfaat dari ojek dan jasa delivery, nyatanya mereka juga bisa menerima kehadirannya. Setelah berjalan, angin segar dirasakannya dengan mulai ramainya order, hingga pihaknya kuwalahan dan mencari driver lainnya.

Kepercayaan masyarakat terhadap usahanya kian bertambah dari waktu ke waktu. Hingga kini sudah terdapat 6.000 pelanggan setia di seluruh Tulungagung yang di-cover oleh 50 driver yang mayoritas adalah laki-laki, serta enam admin dalam naungan Zendo Tulungagung.

“Syukur-syukur dalam sehari satu driver bisa mendapatkan Rp 100 ribu. Tapi, kerja begini juga tidak bisa dipatok, tergantung sepi atau ramainya orderan,” katanya.
Di tengah-tengah ramainya usaha sejenis dan lebih canggih, Lutfi menekankan pendekatan lebih humanis. Pelayanan kepada masyarakat lebih luwes, tidak hanya sekadar mengantarkan sesuatu. Mulai dari mengantarkan orang, makanan, laundry, atau peluang-peluang lainnya juga dilayani. Sampai sekarang pun masih mengandalkan salah satu media yakni WhatsApp.

“Kita kalau bersaing dengan startup unicorn, jasa ojek yang ada di Tulungagung ini jelas kalah. Karena driver mereka lebih banyak, pun dengan aplikasi yang sudah canggih. Tapi, kita memiliki segmen tersendiri yang didominasi oleh ibu rumah tangga,” katanya.

Perempuan asal Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung tersebut mengatakan, karena para pelanggan setianya bisa bertanya dan request apa yang akan diorder, tidak jarang permintaan nyeleneh didapatkan. Namun, sebagai penyedia jasa, sebisa mungkin apa pun yang diorder tetap dilayani. Selama ada tenaga dan sumber daya manusianya.

“Kadang permintaan mereka itu nyeleneh. Missal membutuhkan tukang servis, mengorder ahli kunci, tambal ban, atau lainnya. Kita coba manfaatkan betul skill yang dimiliki oleh para driver untuk melayani pelanggan setia kita,” tuturnya. (*/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.