Semakin Dekat dengan Pembaca

Perjuangan Lilik Asmarini Puluhan Tahun Mengajar di SLB, Lawan Stigma Negatif Tentang Anak Disabilitas   

TULUNGAGUNG-Puluhan tahun Lilik Asmarini berjuang melawan stigma negatif tentang anak disabilitas. Bahkan perjuangannya untuk melawan stigma tersebut dimulai sejak baru menempuh pendidikan guru sekolah luar biasa (SLB). Dia pun getol menyadarkan kepada orang tua bahwasannya setiap anak merupakan anugerah dari Tuhan tanpa terkecuali.

Lahir dari keluarga terpandang membuat Lilik Asmarini tidak bisa leluasa membuat pilihan atas keinginannya sendiri. Segala sesuatu telah dipersiapkan orang tuanya kala itu untuk menunjang masa depannya. Begitu pula dengan pemilihan sekolah. “Orang tua saya itu merupakan orang berada. Dulu saya diminta meneruskan sekolah di SPG, padahal saya tidak suka menjadi guru. Itu pun tetap dipaksa untuk tes masuk di sekolah SPG, tapi tidak saya kerjakan dan memilih sekolah di Taman Madya,” jelasnya kemarin (05/12).

Sebelum masuk di sekolah Taman Madya, dia sempat tidak sekolah selama tiga bulan akibat tidak menurut dengan orang tua. Memiliki orang tua disiplin, membuat Lilik, sapaan akrabnya, tahan banting dalam menghadapi pahitnya kehidupan. Cerita sama pun terjadi dalam pemilihan jenjang pendidikan berikutnya, Lilik terpaksa tidak diterima pada jurusan Matematika di IKIP Surabaya. “Kalau tidak diterima masak saja di rumah, tidak perlu kuliah lagi. Bapak saya bilang seperti itu, dia mau membiayai kuliah kalau di sekolah tinggi negeri,” ucapnya.

Setelah kejadian tersebut, dia menganggur di rumah selama satu tahun. Baru pada saat berpergian ke sanak saudara,  melihat tulisan adanya penerimaan mahasiswa baru di Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) di Mojokerto. Saat melihat itu, dia memutuskan berhenti dari perjalanannya dan mampir ke sekolah tinggi tersebut untuk mengambil formulir pendaftaran. “Saya saat naik becak, kok lihat ada tulisan penerimaan mahasiswa baru di SGPLB. Melihat itu saya nyuruh tukang becak untuk berhenti dan saya mampir ke sana untuk mengambil formulir pendaftaran,” paparnya.

Perempuan tersebut tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui jikalau telah melanjutkan pendidikan di SGPLB. Ketika ditanya orang tua, terpaksa menutupi dan mengaku sekolah di IKIP dengan jurusan Matematika. Namun sepandai-pandainya menutupi, lama kelamaan orang tuanya mengetahui apa yang disembunyikannya. “Nah pemberitahuannya keterimanya itu kan melalui surat undangan, surat undangannya itu dibaca bapak,” ujarnya.

Orang tua Lilik pada waktu itu tidak menerima pilihannya dan merasa malu kalau anaknya bersekolah di sekolah tinggi tersebut. Meski demikian tidak mengecilkan keinginannya tetap merasakan pendidikan dan menyelesaikan pendidikannya di tahun 1989. “Kamu mau jadi apa sekolah di sana, apa mau  mengajar anak kurang beruntung, nanti kalau anak-anak kurang beruntung bagaimana. Itu pertanyaan dari orang tua waktu itu, tapi tidak saya pedulikan dari pada tidak sekolah sama sekali,” ungkapnya.

Deru air mata Lilik menetes saat sedang menceritakan masa lalunya. Bagaimana tidak, banyaknya cemoohan dan hinaan diterimanya dari orang terdekat terpaksa ditelan bak menelan pil sangat pahit. “Tapi tidak berselang lama orang-orang yang mencemooh waktu itu mendapatkan imbasnya masing-masing. Kata-kata untuk anak-anak berkebutuhan khusus itu harus berhati-hati,” ucapnya.

Takdir telah ditentukan Tuhan merupakan hal terindah. Itu ada dibenak Lilik ketika terjun langsung mengajar anak-anak disabilitas. Tak lama berselang, orang tuanya dulu tidak mendukung, akhirnya memberikan mendukung dengan membelikan alat-alat penunjang pendidikan bagi anak-anak disabilitas. Di situlah merasakan keindahan arti kejujuran dan keikhlasan. “Melihat cerita ditakdirkan Allah untuk saya itu sangat indah sekali Mas. Orang tua saya mendukung dan membenarkan pilihan saya mengajar anak-anak disabilitas,” jelasnya dengan cucuran air mata di pipinya.

Dia puluhan tahun berjuang melawan stigma negatif tentang anak-anak disabilitas. Dia bahkan sering berpesan kepada seluruh wali murid di SLB PGRI Kedungwaru bahwasanya anak-anak ini akan membukakan pintu surga. “Setiap anak itu adalah anugrah, tanpa terkecuali,” tutupnya. (*/din)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.