Semakin Dekat dengan Pembaca

Perlu Adanya Hitungan Astronomi dan Pengamatan Bulan sebelum Sidang Isbat

TULUNGAGUNG – Penentuan penetapan awal Ramadan 1443 Hijriah masih menunggu putusan dari sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) pusat. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan sidang isbat akan menggabungkan hasil hitungan astronomi atau hisab dan hasil dari pengamatan lapangan atau rukyatul hilal.

Kini Kemenag Tulungagung akan mengikuti rukyatul hilal di Kabupaten Blitar, sedangkan pelaksanaannya masih menunggu arahan dan koordinasi dari Kemenag Kabupaten Blitar.

“Untuk melaksanakan hisab dan rukyatul hilal, pihaknya akan menunggu arahan serta koordinasi dari Kemenag pusat melalui Kemenag Kabupaten Blitar,” ungkap Plt Kasi Pelayanan Haji dan Umrah Kantor Kemenag Tulungagung, Supriono melalui Staf Bimas Islam Kemenag Kabupaten Tulungagung, Syaf’an Ainu Rosydi.

Menurut dia, hal itu dikarenakan tempat untuk melakukan rukyatul hilal di Kabupaten Tulungagung masih belum tersedia karena kondisi geografis kabupaten ini yang dikelilingi pegunungan. Selain itu, pelaksanaan hisab dan rukyatul hilal akan terpusat di Kabupaten Blitar. “Biasanya kan ada edaran untuk melakukan hisab dan rukyatul hilal, ketika sudah ada edaran nantinya akan dibentuk tim untuk melaksanakan hisab dan rukyatul hilal tersebut,” jelasnya, Selasa (29/3).

Lanjut dia, karena di Kabupaten Tulungagung belum ada tempat untuk melaksanakan hisab dan rukyatul hilal, maka Kemenag Tulungagung akan berkoordinasi dengan Kemenag Kabupaten Blitar. Sedangkan tempat untuk melakukan hisab dan rukyatul hilal akan dilakukan di Gunung Wonotirto, Kabupaten Blitar.

Menurut dia, pelaksanaan hisab dan rukyatul hilal untuk seluruh wilayah Karesidenan Kediri akan berpusat di Kabupaten Blitar. “Wilayah Nganjuk, Trenggalek, Kediri, dan Tulungagung akan melangsungkan hisab dan rukyatul hilal di Kabupaten Blitar,” paparnya.

Dia menambahkan, untuk melakukan hitungan astronomi atau hisab dan hasil dari pengamatan lapangan atau rukyatul hilal akan menggunakan beberapa alat bantu. Adapun alat bantu tersebut seperti teleskop, gawang lokasi, dan data perkiraan posisi serta tempat munculnya hilal. Sedangkan waktu pengamatan hilal biasanya dilakukan pada waktu menjelang salat Magrib atau sekitar pukul 17.00 WIB. “Jadi munculnya hilal berapa menit berapa detik nanti ada datanya. Kemudian, alat-alat yang digunakan dalam rukyatul hilal akan dikoneksikan dan direkam agar bisa menjadi bahan putusan dalam sidang isbat,” terangnya.

Dia mengaku, hilal merupakan bulan sabit yang sangat tipis pada fase awal bulan, maka perlu adanya alat bantu. Jika hilal muncul, maka malam itu merupakan tanggal 1 bulan baru. Sedangkan jika hilal tidak muncul, maka malam itu merupakan tanggal 30 dan malam berikutnya merupakan tanggal 1 bulan baru. Hal itu dilakukan atas dasar istikmal atau digenapkan. “Seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan pemerintah tentang penenetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah,” pungkasnya. (mg2/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.