Semakin Dekat dengan Pembaca

Picu Stunting, Pemkab Trenggalek Waspadai Konsumtivisme Makanan Ultraproses

KOTA, Radar Trenggalek – Pemkab Trenggalek mulai mewaspadai konsumtivisme terhadap makanan ultraproses. Disinyalir, makanan itu menjadi salah satu faktor pemicu stunting atau kurang gizi. Sebab, makanan ultraproses mengandung bahan-bahan industri.

Makanan ultraproses adalah pengolahan makanan melalui serangkaian proses di pabrik. Adapun beberapa kandungan bahan industri meliputi pengemulsi, pengental, dan perasa buatan.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengaku, Presiden RI Joko Widodo telah menyampaikan arahan bahwa makanan yang mengandung ultraproses menjadi perhatian serius pemkab. Selain itu, Presiden RI memerintahkan agar mengurangi tingkat konsumtivisme makanan ultraproses, khususnya bagi balita. “Pak Presiden juga mengarahkan untuk mengurangi bahan makan makanan yang ekstra dan ultraproses,” ungkapnya.

Menindaklanjuti arahan itu, Bupati Arifin membenarkan bahwa dua organisasi perangkat daerah (OPD) sudah memiliki desain dalam mengimplementasikan arahan dari Presiden RI. Kedua OPD itu adalah pemerintah kecamatan dan dinas kesehatan, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana (dinkesdalduk KB). “Kebetulan kecamatan dan dinkes ada inovasi penanganan stunting,” ujarnya.

Menyinggung invovasi tersebut, suami Novita Hardini menjelaskan, dengan cara melibatkan pendamping balita-balita untuk terjun lansung dalam hal penyediaan menu makanan bagi balita. Dengan cara itu, diharapkan para orang tua bisa tergugah untuk menghindari balita memakan makanan ultraproses. “Dipastikan makan-makanannya itu bukan lagi biskuit, karena makanan ultraproses itu kurang baik bagi tumbuh kembang anak. Jadi, pendekatannya seperti itu,” jelasnya.

Secara umum, penghobi sepak bola itu mengatakan, fenomena stunting di Kabupaten Trenggalek menurun kurun empat tahun belakang. “Tiga sampai empat tahun lalu itu angka stunting 32, sekarang 18,” ujarnya. Tren penurunan itu, kata Bupati Arifin, salah satu dampak dari peningkatan masyarakat yang gemar memakan makanan yang bergizi karena ternyata makanan bergizi itu tidak harus mahal. “Makanan bergizi tidak harus mahal,” ucapnya.

Di sisi lain, menyinggung kebijakan pemerintah yang akan digulirkan melalui pengalokasian anggaran, rencanannya program pendampingan untuk makanan sehat akan diarahkan ke makanan yang terjangkau tetapi bergizi. (tra/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.