Semakin Dekat dengan Pembaca

PMK, Peternak Kambing di Bumi Penataran Mengeluh, Mengapa?

KABUPATEN BLITAR – Sementara itu, belum ada temuan PMK pada kambing. Kendati begitu, bukan berarti para peternak hewan berkaki empat itu tenang. Mobilitas ternak tidak lancar disebut menghambat usaha peternakan. “Harus mampir-mampir dulu untuk karantina, jadi perdagangan pun juga tidak selancar sebelumnya,” ujar salah seorang peternak kambing, Didik Surdiyanto.

Sejauh ini tidak ada ternak miliknya yang terpapar atau tertular penyakit tersebut. Dia menduga, penyakit ini hanya berlaku untuk sapi. Sebaliknya, meski kambing memiliki potensi tertular yang sama, tingkatnya berbeda dengan sapi.

Warga Kecamatan Gandusari itu tidak hanya memenuhi kebutuhan kambing lokal. Selain dikirim ke luar daerah, ada juga beberapa jenis kambing budidaya milikinya yang diekspor. Namun, selama musim PMK ini aktivitas perdagangan sedikit terhambat. Sayang dia enggan memerinci kondisi perputaran keuangan selama mucul PMK ini. “Jadi kalau masalah harga tidak ada masalah. Karena kondisi luar biasa saja sehingga mobilitas tidak lancar,” katanya.

Tidak ada perlakuan khusus yang dilakukan Didik untuk memelihara kambing tersebut. Seperti perawatan normal, ratusan kambingnya hanya diberi pakan biasa. Selain rumput pakchong, dia memanfaatkan limbah sisa produksi tepung kasava yang dia beli dari daerah Pati, Jawa Tengah. “Rumput pakchong itu kan sedikit basah saaat dirajang, jika ditambahkan dengan tepung limbah itu tampilan sedikit kering dan baik untuk ternak,” katanya.

Pihaknya berharap, wabah PMK segera berlalu. Sebab, dampak yang ditimbulkan akibat pandemi korona beberapa tahun terakhir belum sepenuhnya pulih. Sehingga jelas menjadi persoalan tersidiri bagi, kalangan peternak. “Semoga segera ditemukan cara penanganannya, sehingga ekonomi rakyat kecil bisa lancar kembali,” tandasnya. (hai/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.