Semakin Dekat dengan Pembaca

Polisi Harus Objektif, Gendro Dipanggil Lagi Hari Ini

KABUPATEN BLITAR – Kuasa hukum penggarap lahan bekas perkebunan Karangnongko, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, optimistis kasus dugaan pemberitaan bohong tidak berlanjut. Itu karena posting-an melalui media sosial Gendro Wulandari tersebut tidak menyebutkan insial atau orang tertentu yang dinilai dirugikan.

“Saat ini masih tahap penyelidikan. Kami meyakini tidak akan berlanjut (naik tahap penyidikan, Red). Polisi harus objektif,” ujar Pujihandi kepada Koran ini, kemarin (23/1).

Hari ini untuk kedua kalinya Gendro Wulandari dipanggil polisi. Tujuannya tidak lain yaitu klarifikasi atau permintaan keterangan dalam rangkaian pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket) kasus dugaan pemberitaan bohong.

Pujihandi mengatakan, penanganan kasus ini tidak sederhana. Sebab, harus ada keterangan dari beberapa ahli untuk uji materi atau kelayakanan kasus pemberitaan bohong ini. Misalnya, ahli bahasa, ahli ITE, dan ahli pidana. “Pertanyaannya, apakah kalimat yang diunggah itu adalah berita atau hanya sebatas informasi? Ini harus dipastikan dulu karena jalur penanganannya berbeda,” kata dia.

Menurutnya, dalam posting-an tersebut, Gendro tidak menyebut nama atau pihak tertentu sehingga tidak jelas siapa yang dirugikan. Sebaliknya, Gendro menyebut “preman” karena aktivitas atau kegiatannya dinilai menakutkan. “Ini juga yang menarik. Seharusnya yang diproses itu informasi premanisme, bukan orang yang memberikan informasi,” jelas dia.

Pujihandi juga mengaku akan mengawal proses penyelidikan ini. Dengan harapan, aparat penegak hukum tidak salah mengambil langkah dan menghukum orang yang tidak bersalah. “Jangan sampai ada kriminalisasi dalam kasus Karangnongko,” tegasnya.

Di lokasi terpisah, Ketua Rakyat Tuntut Amanah Keadilan (Ratu Adil), Mohammad Trijanto mengatakan, aparat penegak hukum harus bertindak secara objektif. Pihaknya juga mengakui kasus pertanahan di Kabupaten Blitar cukup banyak menguras tenaga dan pikiran. “Tapi yang jelas, penjara itu tempat para penjahat, bukan orang yang berbeda pendapat,” terangnya.

Untuk diketahui, Jumat pekan lalu, Gendro Wulandari, warga Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, menerima surat panggilan. Perempuan yang sempat bertemu Bupati Blitar dan mengadu persoalan reditribusi lahan bekas perekebunan ini bakal dimintai keterangan dalam kasus dugaan pemberitaan bohong. (hai/c1)

Leave A Reply

Your email address will not be published.