Semakin Dekat dengan Pembaca

Polisi, Sampai Kapan “Badai Ujian” Ini Berakhir?

KOTA BLITAR – Siang tadi. Seolah tidak percaya dengan informasi yang beredar di salah satu grup WhatsApp (WA) di smartphone saya. Tentang salah satu perwira tinggi (pati) Polri yang baru saja (kayaknya beberapa hari kemarin, Red) diberi kepercayaan untuk bertugas di Jatim sebagai kapolda. Ehh ternyata, belum sempat menginjakkan kaki di Surabaya, malah sudah ditangkap duluan. Gara-garanya ini yang mengagetkan, yakni karena: jual narkoba.

Padahal, masih hangat di ingatan, masih bergaung di ruang-ruang publik. Informasi tentang Irjen FS yang dipecat dari Polri, setelah menjadi tersangka pembunuhan berencana terhadap salah satu ajudannya, Brigadir J. Kasus FS ini, bahkan menumbalkan beberapa pati dan pamen. Ya, mereka harus kelar karirnya secara dini di Polri, karena diduga terlibat dalam rencana itu (pembunuhan Brigadir J, Red). Kemudian, kasus itu terus bergulir hingga “jenderal pembunuh” bersama kawan-kawannya digulung dan harus berhadapan dengan pengadilan.

Belum kelar keterkejutan publik dengan fakta: seorang jenderal menjadi dalang pembunuhan ajudannya sendiri. Tiba-tiba pada 1 Oktober, setelah laga panas antara Arema Malang melawan Persebaya Surabaya yang bergulir lancar hingga menit akhir, hasilnya kebetulan yang kalah adalah tuan rumah.

Kemudian, seperti yang kita ketahui dari berbagai platform informasi, dari media cetak, televisi, hingga online nasional, bahkan internasional. Kerusuhan terjadi. Polisi yang menjaga keamanan menembakkan gas air mata. Pintu gerbang stadion untuk penonton kelas ekonomi hanya satu yang terbuka. Dampaknya, ratusan nyawa suporter melayang. Dua polisi juga meninggal. Ini kembali menyita perhatian masyarakat dunia. Ini juga membuat kapolri segera turun tangan (atas perintah Presiden Joko Widodo). Dan usut punya usut, penyelidikan yang dilakukan, membuat pemegang kuasa liga nasional, ketua panitia pelaksana, hingga keamanan internal stadion menjadi tersangka. Lalu di pihak polisi, Kapolres Kabupaten Malang dipindahtugaskan, beserta perwira menengah lainnya, bahkan berujung pada dipindahkannya kapolda saat itu.

Opini di masyarakat berjejalan tak karuan. Ada yang menyalahkan suporter yang “diduga” rusuh. Ada yang menyesalkan “kegagapan” polisi dalam menangani kerusuhan, hingga harus menembakkan gas air mata yang jumlahnya tidak karuan. Ini membuat kami para insan media ikut sibuk, mencari berita, dan ikut mencari fakta.

Gubernur hingga pejabat di daerah sibuk menghapus air mata orang tua yang anaknya menjadi korban, kakak yang adiknya meninggal, nenek yang kehilangan cucu kesayangannya, hingga ratusan teman sekolah yang mengantre di sebuah jalan desa hanya untuk menunggu dan melepas jenazah salah satu temannya yang Aremania sejati, menjadi korban dalam tragedi kerusuhan di Kepanjen, Malang, itu.

Lagi-lagi, polisilah yang menjadi sasaran kekecewaan masyarakat senegeri ini. Meskipun polisi sendiri sibuk menyelidiki akar persoalannya, bersih-bersih, hingga memindahkan kepala-kepala komando yang dianggap bertanggungjawab dalam kejadian itu (kerusuhan di Kepanjen, Malang, Red).

Kemarin (14/10), masyarakat Indonesia kembali harus dibuat shock. Lagi-lagi karena polisi. Seorang Pati Polri, yang baru saja dipindahkan dari Sumbar nun jauh di sana ke Jawa Timur, Irjen TM, jadi sasaran mata publik. Bahkan, sepertinya jenderal ini belum sempat menginjakkan kaki di Kota Surabaya. Dia terpaksa menerima “tackling” keras dari teman-temannya sendiri. Setelah ketahuan menjual narkoba jenis sabu-sabu. Tragisnya, narkoba ini adalah sejumlah barang bukti yang pernah diungkap oleh Polda Sumbar sebelumnya, ketika Irjen TM memegang komando saat itu.

Polri kembali harus kalang kabut karena ulah oknum anggotanya ini. Sangat disayangkan, oknum-oknum ini adalah mereka yang sudah berpangkat jenderal. Tentunya, mereka-mereka ini sudah banyak makan garam dan hadapi aneka tantangan berbagai kejadian dalam meniti karir sebagai seorang abdi negara. Padahal, setiap bulan mereka juga menerima upah dari negara.

Sungguh, 2022 ini menjadi titik balik dari berbagai kejadian yang terjadi di negeri ini. Menjadi ujian yang benar-benar menantang bagi institusi Polri. Selain harus “bersih-bersih” di internal karena perbuatan-perbuatan jahat dan kriminal yang dilakukan beberapa oknum jenderal ini, juga harus sigap dan bijaksana untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Hal ini (mengembalikan kepercayaan masyarakat, Red) mungkin lebih berat dari sekadar menertibkan internal institusi. Karena masyarakat sudah kecewa dan prihatin dengan “sepak terjang” negatif, yang ironisnya dilakukan oleh mereka yang memegang kebijakan di Polri.

Evaluasi dan instrospeksi diri harus dilakukan para pejabat-pejabat teras di institusi Polri. Karena masyarakat sudah mengkait-kaitkan berbagai kejadian yang harus ditanggung oleh Polri ini sebagai kutukan. Mungkin ini juga dampak dari mubahalah yang sempat dilontarkan oleh Imam Besar FPI Habib Riziq Syihab, setelah enam anggota laskar yang mati tertembak. Masyarakat menganggap enam anak muda itu (anggota laskar, Red) mati sia-sia. Sebab, banyak yang menyuarakan bahwa keadilan tidak pernah ditegakkan dengan benar. Ya, itu mungkin saja.

Sekali lagi. Sampai kapan “ujian” bagi intitusi Polri akan terjadi? Bagaimana pejabat Polri akan menghadapi dan menyelesaikan hal ini? Atau, akankah perahu Polri akan karam? Yang bisa menjawab adalah Polri sendiri. Sebab, saya, masyarakat, dan rakyat Indonesia masih meyakini masih banyak polisi-polisi yang baik. (*/c1/ady)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.