Semakin Dekat dengan Pembaca

Polisi Selidiki Dugaan Aktor Intelektual Perampokan Rumdin Wali Kota Blitar

KOTA BLITAR – Pengejaran terhadap dua tersangka kasus perampokan rumah dinas (rumdin) Wali Kota Santoso yang buron terus dilakukan. Kedua pelaku itu berinisial OS, 35; dan MA, 35.

Di samping itu, polisi juga sedang mendalami motif serta dugaan lain yang berkembang. Kepolisian terus menggali ketarangan kepada tiga pelaku yang sudah tertangkap lebih dulu. Barang bukti dan petunjuk baru menjadi modal penyidikan polisi.

Termasuk mendalami indikasi adanya peran informan yang berasal dari lingkup rumdin atau orang dalam. Pun dugaan adanya aktor intelektual di balik kasus perampokan. “Ya, kenapa kok di Blitar? Apakah ada peran seseorang? Keinginannya seperti apa?. Itu materi yang perlu diselidiki. Untuk menyimpulkan tentu perlu pendalaman,” ujar Kapolres Blitar Kota AKBP Argowiyono, kemarin (16/1).

Sekadar diketahui, lima tersangka kasus perampokan itu notabene merupakan warga luar Kota Blitar. Yakni, MJ, 54, asal Kabupaten Lumajang; ASM, 54, asal Jakarta Barat; dan AJ, 57, asal Kabupaten Jombang. Bahkan, dua pelaku yang masih diburu juga bukan warga Blitar. Hal ini lantas memicu adanya dugaan informan yang paham betul dengan kondisi rumdin.

Bukan hanya memeriksa pengakuan pelaku, polisi juga memastikan menyelidiki saksi yang berasal dari lingkup rumdin. Termasuk wali kota Blitar Santoso dan istri, banpol yang berjaga di rumdin, rekan, dan keluarga wali kota. Pemeriksaan terhadap saksi-saksi tersebut bakal dilakukan secara intensif sesuai intruksi Polda Jatim.

Hingga kini, tim jatanras masih memburu kedua pelaku yang buron. Pengejaran terhadap keduanya pun diperluas.”Tim Jatanras juga belum pulang, Pengejaran diperluas,” kata perwira berpangkat dua melati ini.

Meski telah ditangkap, polisi masih perlu memeriksanya secara mendalam. Tidak menutup kemungkinan ada petunjuk baru dalam penyidikan ini. Termasuk menyiinkronkan antara keterangan pelaku dengan barang bukti yang telah ditemukan. Namun hingga kemarin, jelas Argo, belum ada saksi tambahan yang diperiksa. Menurutnya, polisi masih fokus memburu dua pelaku DPO.

Terkait rencana rekonstruksi belum bisa dilaksanakan. Sebab, polisi masih menunggu semua tersangka diringkus. Nantinya, reka ulang dilakukan di rumdin. “Termasuk pemberkasan perkara hingga sidangnya tetap di Blitar,” terangnya.

Sementara itu, Krimonolog Universitas Surabaya (Ubaya) Dr. Elfina L. Sahetapy mendesak kepolisian segera membekuk para pelaku. Dia juga meminta, polisi terus memeriksa saksi dan dugaan adanya aktor intelektual. Sehingga, penyelidikan kasus ini segera menemukan titik terang.

Selain itu, lanjut dia, polisi harus mengungkap motif perampokan ini. Mengingat, kelima tersangka bukan warga Blitar dan seolah mengetahui bahwa ada uang ratusan juta. Diduga ada orang dalam yang memberikan informasi kepada para pelaku. “Karena warga luar kota yang pasti tidak punya bayangan siapa sasarannya andaikan merampok di sebuah kota yang asing bagi mereka,” jelas Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Ubaya ini.

Pihaknya menegaskan, penting agar perampok dihukum setimpal. Termasuk sosok aktor penggerak dari lima pelaku jika memang terbukti ada. Aktor tersebut juga wajib diproses hukum dengan harapan bisa mengembalikan rasa aman di Kota Blitar.”Dari kasus ini, masyarakat akan berpikir, rumdin aja bisa dirampok apalagi rumah yang tidak ada penjaganya. Akhirnya, kota yang sebelumnya tentram dan damai, menjadi penuh kepanikan,” tandasnya.

Sebelumnya, rumdin wali kota Santoso disatroni kompolotan perampok pada 12 Desember 2022 lalu. Para pelaku melancarkan aksi nekat ini dengan menyekap dan mengikat banpol, wali kota, dan istri. Uang sekitar Rp 400 juta dan sejumlah perhiasan dikuras. Pelaku kabur menggunakan mobil Toyota Innova dengan plat merah palsu.

Tiga pelaku yang sudah diringkus, yakni MJ, 54, asal Kabupaten Lumajang; ASM, 54, asal Jakarta Barat; dan AJ, 57, warga Kabupaten Jombang. Sementara dua tersangka lainnya, OS dan MA masih diburu polisi. (luk/sub).

Leave A Reply

Your email address will not be published.