Semakin Dekat dengan Pembaca

Potensi Sumber Mata Air di Trenggalek Bernilai Miliaran

TRENGGALEK – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Timur (Walhi Jatim) merilis hasil riset terhadap potensi sumber mata air di dua kecamatan di Trenggalek bisa menyentuh nilai miliaran rupiah.

Manajer Pembelaan Hukum dan Kebijakan Publik Walhi Jatim Pradipta indra menjelaskan, pengambilan titik sampel sumber mata air berada di Kecamatan Kampak dan Watulimo.

Di antaranya di Desa Timahan, Sugihan, Bendoagung, Bogoran, Ngadimulyo, Senden, Karangrejo, dan Slawe.

Beberapa lokasi itu sengaja dipilih karena wilayah itu menjadi sasaran Izin Usaha Produksi (IUP) Tambang Emas oleh PT Sumber Mineral Nusantara (SMN).

Sementara ketika praktik pertambangan itu benar-benar dilakukan, menurut Indra, sejumlah titik sumber mata air bakal rusak.

Berimplikasi dari proses pengambilan sumber daya mineral di dalam tanah, memerlukan metode dengan cara blasting (peledakan, Red).

“Kita fokus di dua kecamatan itu karena akan menjadi tapak inti,” ucapnya.

Indra menyayangkan jika ancaman itu menjadi kenyataan di Kabupaten Trenggalek.

Padahal salah satu wilayah di pesisir selatan Jawa, itu menyimpan titik-titik sumber mata air yang potensial. Bahkan ketika potensi air itu dinominalkan, nilainya bisa menyentuh miliaran.

“Saya pikir ini bisa menunjukkan potensi ekonomi dari air, tapi itu akan hilang ketika tambang emas itu ada,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, sejak awal riset yaitu menentukan lokasi hingga perhitungan potensi, Indra mengaku, sudah merujuk dalam kaidah-kaidah penelitian.

Hasilnya, ada perbedaan yang signifikan mengenai jumlah titik sumber mata air antara data dari Pemkab Trenggalek dengan Walhi Jatim.

“Data dari pemkab itu sendiri belum akurat karena di Kampak itu disebutkan cuma ada 14 titik dan di Kecamatan Watulimo itu cuma ada 6 titik. Tapi ketika kita riset, kami menemukan 85 titik sumber mata air,” jelas Indra.

Titik-titik sumber mata air itu adalah ‘umbulan’ yakni mata air yang keluar dari dalam tanah.

“Atau dia (mata air, Red) muncul dari kepotong tebing, seperti di Lumajang yang terdapat dua jenis mata air jika dilihat dari topografinya,” tambah Indra.

Di sisi lain potensi dari 85 titik sumber mata air yang tersebar di delapan desa di dua kecamatan, sebut Indra, bisa mencapai 11.836.800 liter per hari.

Melalui potensi itu, “Dari 11 juta (debit air) dibagi 18 liter (kapasitas satu galon), ketika air isi ulang saja Rp 5 ribu per galon, maka tinggal dikalikan saja berapa miliar itu potensi ekonomi yang bakal hilang jika tambang itu ada. Dan, itu cuma 85 titik saja,” tegasnya.

Melalui hasil risetnya, Walhi Jatim berharap agar pemkab Trenggalek bisa mereview ulang karena didapati data yang kurang akurat, kemudian mendata seluruh sumber mata air di Kabupaten Trenggalek (utamanya di 9 kecamatan wilayah konsesi tambang emas di Trenggalek, Red).

“Air itu sebagai common propety, kebutuhan publik yang dapat diakses masyarakat. Prioritas utamanya adalah kebutuhan air untuk masyarakat terpenuhi, baru kemudian digunakan untuk jasa,” pungkasnya. (tra/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.