Semakin Dekat dengan Pembaca

Prediksi BMKG Jatim: Tulungagung Dilanda Cuaca Ekstrem hingga 3 Bulan

TULUNGAGUNG– Awan mendung hingga hujan lebat diprediksi Badan Meteorologi KIimatologi dan Geofisika (BMKG) akan terjadi hingga tiga bulan ke depan.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Timur (Jatim), Ahmad Lutfi mengatakan bahwa dua kecamatan berstatus waspada di antaranya Ngantru dan Karangrejo akan terjadi hujan lebat pada Rabu (7/12) ini. Selain itu, dalam minggu ini diprediksi hujan ringan hingga lebat disertai petir cenderung terjadi siang hingga malam hari.

“Waspada juga terhadap potensi peningkatan kecepatan angin yang terjadi saat hujan. Jatim termasuk Tulungagung telah masuk musim penghujan. Karena itu, cuaca atau hujan ekstrem berpeluang terjadi hingga tiga bulan ke depan,” ungkapnya ketika dihubungi melalui telepon.

Dia melanjutkan, dalam analisis dan citra satelit, hujan pada Minggu (12/4) lalu memang termasuk hujan ekstrem. Memang awan tebal sudah terjadi pukul 13.00 WIB, hingga puncaknya terjadi satu jam kemudian sampai pukul 16.00 WIB. Saat itu hujan ekstrem dianalisis, terutama terjadi di daerah pesisir selatan.

Awan memang intens di bagian selatan Jatim. Apalagi, hujan menimbulkan angin kencang hingga menimbulkan bencana. Pihaknya hanya menyebut itu angin kencang, dilihat dari kecepatannya dengan skala pivord. Jadi, angin kencang ini ditandai dengan pola arusnya yang berputar dan dimungkinkan saat orang berjalan tidak bisa melawan arah angin.

“Bisa jadi di daerah yang terdampak angin kencang atau populer disebut angin puting beliung ini terdapat awan kumulonimbus cukup besar. Dampak terjadi angin kencang dulu atau angin kencang bersamaan dengan hujan,” terangnya.

Namun, apabila pola angin berputar hingga menimbulkan kerusakan, maka itu kecepatannya luar biasa atau bisa saja melebihi 60 kilometer (km) per jam. Meskipun tidak setiap hujan disertai angin, masyarakat tetap harus waspada terhadap cuaca yang ada di daerahnya. Selain itu, juga harus update informasi prakiraan cuaca yang terjadi di daerahnya untuk berjaga-jaga.

Menurut dia, pengamatan visual lebih penting karena masyarakat bisa langsung mengamati kondisi di sekitarnya. Sebelum terjadi hujan lebat atau bencana angin, awan menjadi hitam pekat dan besar. Apalagi, jika kondisi suhu di daerah tersebut panas hingga membuat orang gerah dan ditandai kondisi awan terang lalu membesar, maka bisa terjadi hujan lebat.

“Namun, cuaca di Tulungagung tentu tidak dipengaruhi erupsi Gunung Semeru. Lantaran kejadian di Gunung Semeru dan cuaca adalah suatu hal yang berbeda sehingga tidak bisa disangkutpautkan,” pungkasnya.(jar/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.