Semakin Dekat dengan Pembaca

Proses Ganti Untuk Tanah Dampak Tol Tulungagung-Kediri Harus Terbuka

Tulungagung- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung memandang banyak manfaat dari pembangunan jalan tol Kediri-Tulungagung. Di sisi lain, masyarakat terdampak mengharapkan keterbukaan proses ganti untung agar semuanya jelas. Tanpa ada masyarakat terdampak yang merasa dirugikan.

Bupati Tulungagung Maryoto Birowo mengatakan, sikap Pemkab Tulungagung jelas mendukung pembangunan jalan tol tersebut sebagai salah satu proyek strategis nasional. Bagaimanapun, pemerintahan di daerah haruslah tegak lurus dengan apa pun kebijakan yang dicanangkan pemerintah pusat.

Dampak pembangunan tersebut, lanjut dia, akan memiliki fungsi yang sangat besar bagi kemajuan Kabupaten Tulungagung di berbagai sektor, katakanlah sektor perekonomian masyarakat sampai pariwisata. Memang harus ada beberapa masyarakat yang menjadi korban dari pembangunan tersebut, tetapi dapat dipastikan semuanya akan mendapat ganti untung setimpal. “Tidak masalah ada yang harus menjadi korban, tapi harus ditata sedemikian rupa untuk ganti ruginya. Pastinya sudah ada pihak yang menghitung itu. Kita akan bicara juga bersama jajaran forum koordinasi pimpinan daerah (forkompimda) untuk membahas jalan tol ini,” katanya.

Lima bidang tanah dan satu bangunan puskesmas pembantu (pustu) milik Pemkab Tulungagung juga terdampak tol Kediri–Tulungagung. Namun, itu akan diberikan ganti untung sesuai hitungan. Begitu juga bangunan pustu yang akan dibangun kembali karena adanya ganti untung dari pihak pemrakarsa pembangunan jalan tol Kediri-Tulungagung.

 

Memang, di sisi lain terdapat sebagian masyarakat yang ketiban untung dari pembangunan jalan tol ini. Salah satunya adalah Ali, warga di Kecamatan Karangrejo. Di lahan sawahnya telah terpasang patok yang bakal dilintasi pembangunan nasional.Dia mengaku, sudah melakoni beberapa sosialisasi terkait proses penggantian tanah miliknya untuk proyek besar itu. Warga yang senasib dengannya mencoba menyatukan pandangan dengan pembicaraan bersama. Namun, secara garis besar, warga menunggu proses penggantian lahannya. Kejelasan dan transparasi perhitungan harga tanah diharapkan dapat terus diikuti masyarakat. “Lahan sawah punya saya terbilang kurang produktif. Karena beberapa kali dicoba ditanami, hasilnya tidak memuaskan. Pernah gagal panen,” ujar pria tersebut.

Dia tidak mau merugi dengan keputusan pihak pemrakarsa proyek tol. Setidaknya, harga tanah yang dipatok harus benar-benar relevan dengan perkembangan harga tanah di wilayahnya. Kalau tidak begitu, warga yang senasib dengannya tentu akan gusar lantaran setidaknya mereka sudah membayangkan gambaran berapa harga tanah apabila memang digunakan proyek jalan tol. “Ya kalau bisa jangan lebih murah dari harga saat tidak ada pembangunan. Saya dengar-dengar kalau lahan untuk proyek nasional ini ganti untungnya tinggi, harapannya begitu,” tandasnya. (nul/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.