Semakin Dekat dengan Pembaca

Prospek Usaha Beternak Murai Batu ala Agung Winarto

TRENGGALEK – Agung Winarto rela membanting setir menjadi peternak murai batu, dari yang sebelumnya adalah pembudi daya anggrek. Peralihan usaha itu karena dia melihat prospek bisnis yang lebih menjanjikan dengan beternak burung berciri khas warna cokelat dan hitam tersebut.

Sewaktu pandemi Covid-19, Agung Winarto sempat tersenyum lebar mengembangkan budi daya anggrek. Ketika itu anggrek sedang booming karena dapat menjadi pelepas penat dan menambah kesibukan saat gencar stay at home.

Agung yang punya jiwa bisnis tak menyia-nyiakan momentum itu. Dia pun terjun menjadi pembudi daya anggrek dan mampu mencapai omzet Rp 2 juta tiap satu pekan.

Di sela-sela menekuni anggrek, Agung juga hobi memelihara burung. Misal kenari, cucak hijau, maupun murai batu. Pada fase itu, Agung belum punya pandangan bisnis untuk beternak burung. Jadi, dia memandang hobi hanya sekadar hobi.

Namun, seiring waktu atau sekitar setahun lalu, bapak tiga anak itu menyadari bahwa prospek bisnis peternak burung lebih menggiurkan, apalagi ketika dalam sekali panen minimal bisa meraup Rp 1,5 juta. Mulai titik ini, Agung memutuskan beralih menjadi peternak murai batu.

Dalam membangun usaha baru, pria kelahiran 1970 itu tidak setengah-setengah. Dia mencicil keperluan peternakan secara bertahap. Mulai membesarkan murai batu jantan dan betina sejak anakan, membangun kandang seluas 6×6 meter dengan tinggi 4,5 meter, juga mempersiapkan untuk indukan murai batu blorok.

Modal dari jualan anggrek diputar untuk membangun usaha barunya. Agung mengaku, beralih usaha tak perlu tergesa-gesa, hanya perlu mencicilnya sedikit demi sedikit. “Saya lebih memilih membesarkan murai batu sejak anakan dibanding langsung indukan, agar burung bisa beradaptasi dengan lingkungan,” ungkapnya sambil menyeduh kopi di belakang rumahnya.

Biarpun masih anakan, murai batu ternyata sudah punya harga yang fantastis. Menurut Agung, satu pasang murai batu senilai Rp 5 juta, sedangkan murai yang memiliki kelainan genetik (blorok, Red) harganya menyentuh Rp 12 juta. “Sudah punya yang blorok, satu jantan dan satu betina,” ucapnya.

Kini dirinya tengah mempersiapkan satu kandang lagi untuk murai batu bloroknya. Dari perindukan yang memiliki kelainan genetik, Agung menilai peranakannya nanti lebih dominan akan berkelainan genetik, persentasenya pun mencapai 75 persen.

Setahun beternak murai batu, Agung tidak cemas dengan masalah pemasaran dan penjualan. Selama ini banyak pedagang-pedagang mengantre untuk membeli anakannya tiap kali panen.

Masa panen murai batu tergolong singkat, sekitar sebulan sekali. Dihitung dari masa pengeraman selama 14 hari, kemudian ketika anakan sudah berusia satu pekan, maka sudah bisa dijual. Saat ini, Agung punya 6 indukan, 2 jantan, dan 4 betina. Jadi kalau kondisi normal, tiap bulan bisa menghasilkan 12 telur, “Rata-rata tiap indukan bisa menghasilkan 2-3 telur,” ujarnya.

Sudah menjadi hal yang wajar, beternak telur kadang berhadapan dengan kondisi yang abnormal. Kondisi itu dipicu akibat penyakit atau stres sehingga dapat memengaruhi intensitas telur dari indukan.

Sebagai peternak murai yang cukup anyar, Agung termasuk berpengalaman dalam memelihara burung. Meskipun dia tidak menjelaskan rinci, sebagai peternak haruslah telaten mengecek kondisi burung. “Karena beternak juga berhubungan dengan makhluk bernyawa, jadi harus mengenali gejala penyakit pada burung, dan tahu cara memberikan treatment-nya,” jelasnya.

Karena itu, Agung mendesain kandang dengan ukuran yang lumayan besar. Dalam kandang itu juga ada beberapa jenis tumbuhan sehingga bagaikan hutan bagi para murai batu. Desain itu juga membuat Agung lebih betah memperhatikan gerak-gerik peliharaannya ke sana ke mari. “Murai batu termasuk burung teritorial. Jadi, jangan sampai ada pejantan lain di dalam satu kandang. Justru menjadi tidak masalah kalau lebih dari satu betina di satu kandang itu,” ujarnya.(*/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.