Semakin Dekat dengan Pembaca

Puluhan Mahasiswa UIN Satu Tulungagung Nobar 50 Film Mode Vertikal

TULUNGAGUNG– Puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah melakukan agenda nonton bareng (nobar) sebanyak 50 vertikal film. Film yang dibuat dengan tenggang waktu selama tiga bulan ini merupakan karya murni dari mahasiswa jurusan tersebut.

Dosen Broadcasting Agus Widodo mengatakan, dalam rangka menuntaskan tugas tengah dan akhir semester, mahasiswa KPI UIN SATU melakukan pembuatan film. Uniknya, pembuatan film tersebut dilakukan dengan mode layar vertikal. “Biasanya film-film konvensional dibuat dengan mode layar horizontal. Nah, mahasiswa kita tuntut membuat film dengan mode layar vertikal,” jelasnya, kemarin (06/12).

Tidak ada kesulitan berarti bagi mahasiswa KPI dalam pembuatan film dengan mode vertikal. Alhasil, terdapat 50 film dengan mode vertikal yang akan ditonton di Gedung Arif Mustaqim lantai 6.

Menurut dia, secara teknis mahasiswa harus memiringkan alat rekam mereka untuk mengambil gambar dan hanya butuh pembiasaan. “Tidak ada permasalahan kompleks. Kalau ada mahasiswa kesulitan itu, biasanya langsung konsultasi,” ucapnya.

Pemilihan pembuatan vertikal film tersebut tak asal-asalan. Film dengan mode layar vertikal ini unik. Bahkan, kebanyakan orang kini lebih sering menonton dengan mode layar vertikal atau potret. “Warganet pun kini lebih nyaman menonton dengan mode layar vertikal. Dengan begitu, KPI sedang menyiapkan konten kreator profesional dan siap langsung terjun ke lapangan kerja,” paparnya.

Dia menjelaskan, seluruh mahasiswa jurusan KPI tidak hanya membuat film untuk menuntaskan tugas tengah dan akhir semester, tetapi juga film-film lomba dan latihan. Kemudian, untuk durasi film sekitar 5 menit hingga 10 menit. “Harapannya, lulusan jurusan KPI UIN SATU ini sudah menjadi tenaga profesional dan bisa bermanfaat. Tidak hanya itu, mereka juga dicetak untuk siap berkerja, tidak perlu latihan lagi. Jadi tidak susah mencari pekerjaan, mereka sudah bisa bekerja melalui kerja sama dengan perusahaan atau membawa produk sendiri,” tutupnya. (mg2/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.