Semakin Dekat dengan Pembaca

Puluhan Pabrik Gula Tebu Gulung Tikar Tersedak Biaya Produksi

Tulungagung –  Puluhan tempat produksi gula tebu di Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, terpaksa gulung tikar. Pengalaman pahit ini dirasakan Wildan Farid, salah satu produsen gula tebu di wilayah tersebut. Terhitung sekitar lima bulan lalu, dia menghentikan produksi gula tebu akibat biaya produksi  membengkak.

Tidak seperti biasanya, bangunan semi terbuka terletak di halaman belakang rumah tersebut tampak sepi akan aktivitas. Mesin penggiling untuk mendapatkan nira tebu pun dipenuhi jaring laba-laba, bak, tungku serta tandon penampung nira tebu terlihat tidak terawat. Pertanda bahwasanya telah lama tempat produksi gula tebu tidak digunakan. “Sudah tidak produksi gula tebu lagi,” jelas Wilda Farid.

Dia mengaku, tingginya biaya produksi menjadi faktor utama menghentikan produksi gula tebu. Industri pengolahan tebu rumahan di wilayah itu, terhitung ada sekitar 30-an lebih produsen. Mayoritas memilih untuk berhenti produsi dengan alasan yang sama.

“Biaya produksi mahal terletak pada merang, biasanya harganya Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. Sekarang mencapai Rp 2,5 juta per satu bak truk,” ucapnya.

Merang atau kulit padi ini menjadi bahan bakar utama dalam pembakaran pada pengolahan gula tebu. Dengan adanya merang, api yang dihasilkan dari pembakaran merang akan lebih awet jika dibandingkan dengan kayu bakar sekalipun. Meroketnya harga merang hingg dua kali lipat, membuat Wilda kelimpungan untuk menutup biaya produksi dari industri rumahan yang ia lakoni tersebut. “Sebenarnya sudah pakai bahan lain, dengan mencampur merang dengan ampas tebu sudah kering. Tetapi itu pun masih sering merugi,” paparnya.

Industri pengolahan gula tebu skala rumahan ini, sebenarnya memiliki angka produksi tidak bisa dibilang sedikit. Setidaknya Wildan dapat menghasilkan gula tebu sebanyak 2 ton per hari. Dengan produktivitas sebesar itu tidak sebanding dengan harga gula tebu yang dibeli pengepul dengan harga Rp 8 ribu per kilogram (kg).

“Biaya produksi bisa sampai Rp 15 juta per hari, itu tidak bisa menutup biaya produksi. Terkadang itu untung Rp 300 ribu, tapi sering ruginya atau kalau tidak ya impas,” ungkapnya.

Kondisi tersebut sudah mulai terasa sejak dua tahun lalu. Namun di tahun-tahun sebelumnya, dia memilih untuk tetap bertahan untuk terus memproduksi gula tebu. Sebagai produsen gula tebu selama Sembilan tahun ini pun terpaksa menutup salah satu cendela penghasilannya karena merasa tidak memiliki peluang untung dalam bidang pengolahan gula tebu. “Sekarang lebih memilih usaha lain dulu. Terpaksa ditutup dan tidak produksi lagi, tidak tahu juga mau sampai kapan,” tutupnya. (*/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.