Semakin Dekat dengan Pembaca

Rachma Zulfa Mahasiswi Asal Trenggalek Kembangkan Empon-empon Jadi Camilan Sehat dari Toga

TRENGGALEK- Aroma harum khas jahe sudah tercium ketika Jawa Pos Radar Trenggalek berkunjung di salah satu rumah di Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek. Ternyata aroma harum jahe ini karena saat itu penghuni rumah, Rachma Zulfa, baru memasak salah satu jenis empon-empon tersebut. Langkah memasak bukan untuk campuran bumbu masakan atau jamu, melainkan camilan.

Setelah camilan jahe yang baru dimasaknya tersebut dingin, Rachma dengan saksama memasukkan camilan tersebut ke wadah yang telah disiapkan. Ya, itu lantaran camilan tersebut merupakan pesanan pelanggannya yang stoknya habis beberapa waktu lalu. “Sudah ada telepon dari pelanggan untuk mengambil uang. Sebab, barang yang dititipkan kemarin telah habis. Tapi untuk mengambil uang itu harus menyetor barang lagi,” ungkap Rachma kepada Koran ini.

Sebenarnya, bisnis camilan tersebut belum ada satu tahun ini ditekuninya. Itu bermula ketika membantu sang ibu yang merupakan pengusaha jamu instan untuk membuat produk jamu tersebut. Saat itu stok bahan baku seperti jahe dan kencur sedang melimpah. Namun, di sisi lain, kemasan sedang habis sehingga bahan baku tersebut belum bisa diolah. Sebab, jika diolah tetapi kemasan belum ada, maka ditakutkan tidak bisa bertahan lama. “Jadi, saat itu sedang pesan kemasan, tapi jadinya lama. Sehingga saya berpikir bagaimana cara mengolahnya. Sebab, jika dibiarkan begitu saja bisa tumbuh menjadi tanaman,” katanya.

Dari situ, dia secara spontan mengupas hingga membersihkan toga tersebut. Setelah itu baru memotongnya tipis-tipis agar bisa sekali makan. Setelah proses tersebut selesai, potongan tanaman yang juga berfungsi sebagai bumbu dapur tersebut dimasak ke dalam larutan gula. Cara tersebut biasanya digunakannya untuk membuat jamu instan. Bedanya, jika untuk jamu langsung sari-sarinya murni buah tanaman itu sendiri.

Setelah proses tersebut selesai, Rachma mencobanya sendiri dan ternyata enak. Setelah itu, dia lantas memberikan ke adiknya yang masih kecil dan menjadikannya suguhan bagi tamu yang datang. Ternyata saat itu semua yang memakannya suka dan ketagihan. Gayung pun bersambut. Saat itu ada kerabat yang memesan camilan tersebut, hingga membuat dirinya memproduksinya.

Mengetahui hal itu, akhirnya Rachma dibantu sang ibu mencoba untuk mengurus izin produk camilan buatannya tersebut. Tujuannya agar camilan tersebut bisa masuk ke toko modern dan dijual ke luar daerah. Kini, dia punya langganan rutin. bukan hanya di Trenggalek, melainkan daerah lainnya. “Sebenarnya masih baru, pastinya setiap bulannya saya mendapat keuntungan sekitar Rp 3 juta,” jelas gadis yang juga sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Kediri ini. (*/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.