Semakin Dekat dengan Pembaca

Rawan Penyakit Menular di Lapas, Dinkes Tulungagung Rutin Skrining Napi

TULUNGAGUNG – Kendalikan penyakit menular di beragam sektor, tak terlepas juga pada Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tulungagung. Seluruh warga binaan pemasyarakatan (WBP) lapas tersebut diberikan layanan kesehatan dan skrining secara rutin. Hal itu guna mengendalikan penyakit-penyakit menular tertentu yang menjadi prioritas nasional.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Didik Eka mengatakan, sesuai instruksi, pemerintah kabupaten (pemkab) sedang berkonsentrasi pada penanganan kesehatan masyarakat. Dengan begitu, setiap satu minggu sekali ada fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) yang masuk ke Lapas Kelas IIB Tulungagung. “Lapas itu suatu lingkungan yang tertutup ya, jadi perlu pengecekan kesehatan, dan itu dilakukan setiap satu minggu sekali,” jelasnya kemarin (14/9).

Lanjut dia, faskes di situ dimaksudkan untuk memberikan layanan kesehatan dan skrining gratis, meskipun di lapas telah memiliki dokter dan perawat sendiri. Pasalnya, berdasarkan peraturan daerah (perda) tentang pelayanan kesehatan, warga binaan yang berobat baik di puskesmas maupun rumah sakit akan dibiayai Pemkab Tulungagung. “Walaupun di lapas sendiri juga terdapat dokter dan perawatnya, kita tetap harus memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik,” paparnya.

Dia menambahkan, kemudian untuk penyakit-penyakit menular tertentu yang menjadi prioritas nasional seperti tuberkulosis (TB) dan human immunodeficiency virus (HIV), dinkes melakukan pemeriksaan secara rutin pada tiga bulan sekali dengan melakukan skrining. “Itu termasuk permintaan khusus dari lapas. Apabila ada tahanan atau anggota baru yang masuk atau pindahan dari lapas-lapas lain, itu langsung kita periksa,” ucapnya.

Dia mengaku, jika terdapat indikasi temuan TB pada pemeriksaan penyakit menular tersebut, pihaknya akan memberikan obat kepada yang bersangkutan melalui dokter dan perawat lapas. Begitu pula dengan temuan pengidap HIV yang wajib diberikan antiretroviral (ARV) untuk mengurangi risiko penularan. “Semuanya sama. Akan diberikan melalui dokter dan perawat lapas. Setelah itu baru diberikan kepada yang bersangkutan,” tutupnya. (mg2/c1/din)

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.