Semakin Dekat dengan Pembaca

Realisasi Investasi Kuliner Trenggalek Paling Buncit, Tetap Dihitung Baik Pasca Pandemi

KOTA, Radar Trenggalek – Mulai menjamur usaha kuliner di wilayah Bumi Menak Sopal ternyata tidak terlalu menghasilkan sumbangsih bagi pembangunan. Pasalnya pada tahun kemarin (2022) investasi pada bidang makanan, kesehatan dan obat menduduki peringkat buncit.

Ini terlihat berdasarkan data yang ada di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Trenggalek, investasi sektor kesehatan obat dan makanan berada di kisaran Rp 13 miliar. Hal tersebut kalah jauh dibandingkan pada sektor perdagangan yang menjadi penyumbang investasi terbesar nilai di Trenggalek dengan nilai sekitar Rp 141 miliar. Jumlah tersebut sekitar 39 persen  dari total nilai investasi keseluruhan dengan penyangga utama adalah Usaha Kecil Menengah (UKM). Dengan kondisi tersebut dimungkinkan kesadaran para pelaku usaha makanan untuk mengurus perizinan usahanya tersebut masih rendah. “Pastinya untuk perizinannya kami fasilitasi agar lebih mudah, juga dibantu dengan pegawai di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain yang banyak menggerakkan binaannya untuk melakukan perizinan sekaligus mencatatkan investasinya,” ungkap Plt Kepala DPMPTSP Trenggalek Edi Santoso.

Dia melanjutkan, barulah jumlah tersebut disusul dari sektor industri. Pada tahun kemarin nilainya mencapai Rp 71 miliar. Dengan kondisi tersebut berarti kendati tidak bisa mengungguli sektor perdagangan, namun sudah ada upaya para pelaku industri untuk menghidupkan usahanya tersebut. “Ini merupakan capaian yang baik, sebab seperti yang diketahui bersama sektor industri dan perekonomian lainnya sempat terpuruk ketika adanya pandemi Covid-19,” katanya.

Selain sektor perdagangan juga ada pertanian yang tahun kemarin nilainya mencapai kisaran Rp 50 miliar. Dimana jumlah tersebut lebih besar dari tahun sebelumnya (2021) yaitu di kisaran Rp 16,5 miliar. Tambahan tersebut terjadi lantaran para kelompok tani (poktan) atau gabungan kelompok tani (gapoktan) mulai aktif dalam melegalkan perkumpulannya tersebut dengan mengurus izin, dimana sebagian besar adalah berbentuk koperasi. “Dengan data seperti itu mereka (para gapoktan – red) semangat untuk melegalkan kelompoknya, untuk menangkap adanya potensi bussiness matching, yang digalakkan pemerintah,” imbuhnya.

Selain ketiga sektor tersebut, sektor lain yang menjadi sasaran investasi di Trenggalek adalah energi dan sumber daya mineral (ESDM) sekitar Rp 24 miliar, serta sektor lainnya Rp 62 miliar. Sedangkan khusus  ESDM banyak investor tersebut bukan karena bertambahnya sektor pertambangan, namun banyak yang izin untuk mendirikan Pertashop. Sebab pertumbuhan investasinya tumbuh cukup tinggi, daripada tahun sebelumnya cuma Rp 27 juta.

Dengan capaian tersebut capaian investasi yang ada di Trenggalek total sekitar Rp 361 miliar. Jumlah tersebut lebih tinggi sekitar 20,3 persen dari target yang dicanangkan sekitar Rp 300 miliar. Sehingga, jika dibandingkan tahun sebelumnya nilai investasi di Trenggalek surplus sebesar Rp 69 miliar atau naik sebesar 23,6 persen, yang mana capaian pada tahun tersebut adalah Rp 292 miliar. “Ini merupakan raihan yang baik, semoga di tahun ini (2023 – red) capaian juga meningkat,” jelas pria yang saat ini juga menjabat sebagai Sekretaris DPMPTSP tersebut.(jaz/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.