Semakin Dekat dengan Pembaca

Retakan Kian Merambah, Warga Dihantui Rasa Waswas Tiap Hujan Mengguyur  

TULUNGAGUNG – Kejadian pertama tanah gerak pada Oktober lalu, membuat kehidupan puluhan warga di Kecamatan Tanggunggunung berubah. Salah satu warga terdampak bencana tersebut yakni pasangan suami istri (pasutri) di Dusun Kalitalun, Desa/Kecamatan Tanggunggunung, bernama Sungep dan Suprihatin. Mereka mulai waswas dengan keadaan yang dialaminya.

“Saat turun hujan deras membuat kami khawatir. Tidak ada pilihan lain selain mengungsi ke tempat aman saat hujan. Tetangga sekitar saya, sekitar 28 rumahan juga begitu karena keadaan sama. Kalau hujan, malamnya tidur di pengungsian, paginya aktivitas biasa,” jelas sang kepala keluarga, Sungep.

Dari waktu ke waktu, kondisi retakan yang terjadi kian parah. Retakan awalnya hanya satu garis di bagian tembok, tetapi kini sudah menyebar ke mana-mana. Mulai retakan bertambah parah, lantai mengalami retak, bahkan membuat bangunan rumahnya terpisah.

Padahal, beberapa waktu ini tidak ada getaran yang dirasakan sama sekali. Hanya, hujan memang berusaha mengguyur Desa Tanggunggunung dengan intensitas rendah sampai tinggi. Langkah perbaikan tidak bisa dilakukan. Sungep takut ketika sudah dibangun tetapi keretakan tetap saja terjadi sehingga malah tambah parah. “Dulu, rumah saya dan bangunan toko yang ada di depan itu menjadi satu. Sekarang terpisah menjadi dua,” katanya.

Masih dalam satu lingkungan dengan Sungep, ada dua rumah yang dikosongkan pemiliknya karena keadaan sudah tidak layak huni lagi. Dia terbuka terhadap perpindahan atau relokasi apabila memang harus dilakukan. “Kalau memang jalan satu-satunya harus relokasi, kami siap. Relokasi butuh waktu lama, sedangkan kami tidak tahu sampai kapan hidup dalam keadaan waswas,” katanya.

“Percuma punya rumah gedongan (besar, Red) atau mempunyai uang banyak kalau dirundung perasaan khawatir, hidup rasanya tidak tenang,” imbuhnya.

Dengan kondisi sat ini, sang istri, Suprihatin juga merasa percuma tatkala melakukan pembersihan atau penataan terhadap perabotan rumah tangganya. Karena itu, posisi barang-barang yang ada di rumahnya tidak beraturan dan tak enak dipandang. “Penataan yang dilakukan percuma karena bisa berantakan kembali,” ujar Suprihatin.

Plt Camat Tanggunggunung, Heru Junianto menambahkan, pihaknya sudah menyulap rumah dinas menjadi posko lokasi pengungsian bagi warga Tanggunggunung yang terdampak. Beberapa fasilitas yang disediakan utamanya untuk keperluan tidur sampai makan. Posko tersebut setidaknya bisa menampung sampai 30 warga, dengan dua kamar dan satu ruang tamu dan ruang tengah. “Di sana, kita sediakan mi instan, teh, ataupun kebutuhan lainnya bagi masyarakat. Karena tatkala hujan, biasanya terdapat sekitar 25 warga mengungsi,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, pihaknya telah melakukan imbauan kepada masyarakat, apabila terjadi curah hujan tinggi bisa langsung mengungsi di lokasi yang disediakan atau ke saudara yang lokasinya lebih aman.  Sementara untuk rencana relokasi, saat ini masih menunggu izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai lahan tempat relokasi. “Kita sudah jalin koordinasi dengan dinas terkait untuk bersurat kepada kementerian,” ujarnya. (*/c1/din)

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.