Semakin Dekat dengan Pembaca

Reza Praditya Yudha Buktikan “Guyub Rukun” Tulungagung, Tak Terpengaruh Isu Disintegrasi

TULUNGAGUNG- Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UI telah memberikan gelar doktor kepada Reza Praditya Yudha yang berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Konstruksi Sosial atas Realitas dalam Mediatisasi (Guyub Rukun dalam Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Tulungagung)” di hadapan para dewan penguji pada Selasa (3/1) lalu.

Proposal disertasi mulai dibuat pada tahun 2018. Pemantiknya adalah dinamika sosial di tahun politik kala itu membuat adanya disintegrasi, utamanya di daerah perkotaan. Istilah “kampret” dan “cebong” menyesaki ruang-ruang di berbagai media sosial (medsos). Isu sosial tentang politik dan agama begitu melatarbelakangi sejumlah konflik ataupun ujaran kebencian di beberapa media.

“Secara manusiawi, kita mencoba mencari yang damai-damai saja di tengah berbagai isu yang ada. Ternyata jawabannya selalu ada di media yang ada di Tulungagung dengan Guyub Rukun-nya,” ujar Reza, sapaan akrab Reza Praditya Yudha.

Dengan diskusi bersama akademisi lainnya, diputuskan bahwa Reza akan melakukan perjuangan terhadap kondisi disintegrasi yang ada melalui meja akademisi lewat sebuah disertasi. Proposalnya terus dipertahankan lantaran sebuah disertasi harus bisa memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat banyak, tidak hanya berhenti di perpustakaan.

Untuk perjuangan pertama, sangat diakui bahwa masuk institusi sebesar UI tidak mudah. Hanya ada 10 kuota untuk program S-3 Ilmu Komunikasi dari sekian banyak pendaftar yang mengajukan proposal disertasi. Secara pribadi, Reza merasa sudah menjadi emak-emak sehingga tidak bisa mengerjakan soal-soal tes umum masuk UI. Jadi, perlu waktu satu bulan penuh untuk benar-benar belajar secara intensif dari pukul 20.00 sampai 24.00. “Padahal punya anak, tapi saya tinggal untuk itu,” ungkap Reza.

Nasib baik karena para promotornya memiliki ketertarikan dengan isu-isu budaya maupun isu disintegrasi yang dibawa. Tema disertasi dan sisi kebermanfaatan yang akan dibawa sangat memengaruhi keputusan bisa malanjutkan pendidikan atau tidak terlepas dari berbagai macam latar belakang pendaftar. Proposal disertasinya melenggang kencang dan mendapatkan persetujuan dari dosen promotor. Dengan harapan Guyub Rukun di Tulungagung mampu menjadi resonansi dan diaplikasikan bagi daerah lainnya dengan bahasa masing-masing.

Dia melanjutkan, setelah persetujuan turun, ancang-ancang penggarapan disertasi dimulai dari memastikan bahwa data awal yang dikantongi memang benar-benar terjadi di lapangan. Data yang telah dikumpulkan menunjukkan kencangnya isu disintegrasi selaras dengan pertumbuhan media yang tinggi. Namun. ternyata hal tersebut tidak berlaku di Tulungagung dengan Guyub Rukun-nya. Trigger-nya adalah konflik agama Aksi 2 Desember 2016 atau disebut Aksi 212.

“Menurut informan saya, aksi tersebut tidak memengaruhi adanya disintegrasi ataupun konflik agama di Tulungagung. Tapi di luar Tulungagung, data menunjukan sebaliknya, mereka malah termakan dengan isu-isu keagamaan,” jelasnya.

“Kalau orang Tulungagung sendiri melihat itu sudah biasa, tapi kalau melihatnya dari kacamata luar guyub rukun merupakan hal sangat berharga,” imbuhnya.
Kemudian, ketika konflik mulai muncul, Tulungagung memiliki cara tersendiri untuk meredakannya. Seluruh masyarakat memberikan peran masing-masing untuk tetap mempertahankan Guyub Rukun-nya baik secara formal maupun informal. Masyarakat Tulungagung membangun makna “Guyub Rukun” dari perspektif politik, sejarah, dan sosial budaya.

Guyub Rukun kemudian membentuk kesadaran kognitif dan dimplementasikan masyarakat dalam praktik-praktik sosial. Masyarakat Tulungagung juga membangun mekanisme bersama untuk menjaga Guyub Rukun melalui kebiasaan, aktivitas sosial budaya, dan penyelesaian konflik yang mengutamakan nilai kebersamaan, keharmonisan, inklusifitas, kepedulian, dan saling menghormati.

Lalu dalam keseharian, masyarakat Tulungagung menggunakan media untuk mendiseminasi; meneguhkan dan merepresentasikan Guyub Rukun; menjaga nilai lokalitas; mengelola konflik; memunculkan eksistensi subkultur; membentuk relasi sosial yang harmonis; serta menyajikan informasi secara cepat, valid, dan sesuai dengan konteks sosial.

“Ciri khas Guyub Rukun Tulungagung adalah komunikasi tatap muka masih dipertahankan. Karena itu berhubungan dengan tata krama. Ini kalau di tempat lain, media mengubah segalanya. Termasuk komunikasi tatap muka ini sudah terkikis,” katanya.

Namun kekurangannya, hal itu membuat masyarakat miskin rela untuk berutang demi melanggengkan keberlangsungan Guyub Rukun. Seperti contoh, saat masyarakat miskin rela berutang ke sana kemari demi menggelar acara hajatan. Kemudian, masyarakat lebih mengedepankan unsur keakraban dan kekerabatan dibanding profesionalitas di sisi pekerjaan. Terakhir, harus diungkapkan bahwa Guyub Rukun ternyata juga dijadikan alibi untuk praktik-praktik korupsi.

Maka, dalam disertasinya, Reza merekomendasi masyarakat Tulungagung menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan informasi, membina relasi, diskusi publik, pengawasan pemerintah, dan mendapatkan hiburan. Masyarakat masih dapat memaksimalan pemanfaatan media. Misalnya, untuk meningkatkan pendapatan dan menunjang pendidikan pribadi, atau menciptakan lapangan kerja dan mempromosikan kegiatan kelompok.

Dia mengungkapkan bahwa sempat berkali-kali ingin menyerah terhadap disertasinya. Namun, dengan dukungan dari keluarga, cerita-cerita informan di tanah kelahiran, dan sebagainya, dia bisa menyelesaikan program doktoralnya. Sepanjang sejarah terdapat 103 doktor ilmu komunikasi yang diluluskan oleh UI. Reza menjadi perempuan ke-67 dan nomor dua termuda di antara doktor perempuan yang diluluskan.

“Saya sekolah tinggi sampai sini (Jakarta, Red) kalau tidak berguna untuk Tulungagung ya buat apa. Makanya ingin memberikan peran kepada Tulungagung melalui jalur akademis. Karena saya sadar bahwa yang membesarkan dulu juga orang-orang Tulungagung, dan suatu saat juga akan kembali ke Kota Marmer,” tutupnya.

Ke depan, Reza juga masih berkeinginan menulis tentang Kabupaten Tulungagung. Setelah dari sudut pandang ilmu komunikasi, nantinya entah dari sudut pandang politik, ekonomi, atau yang lainnya. (*/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.