Semakin Dekat dengan Pembaca

Ribuan Buku Berbalut Lumpur, Warga Kuras Rumah

KABUPATEN BLITAR – Banjir bandang yang mendera lima kecamatan di Bumi Penataran pada Senin (17/10) lalu sudah surut. Seiring dengan itu, masyarakat Kecamatan Sutojayan mulai membersihkan sekolah hingga rumah dari lumpur.

Garis horizontal bekas permukaan air bah mewarnai dinding pagar SDN Sutojayan 3. Simbol abstrak itu menjadi bukti nyata ketinggian banjir yang menerjang sekolah tersebut. Saat melintas, tampak tembok sisi atas berwarna hijau cerah, sedangkan nuansa kusam di bagian dasar. Endapan lumpur yang melumuri lantai paving menjadi penyambut kala menjejakkan kaki di gerbang sekolah.

Pagi itu pukul 09.00, suasana tampak ramai. Sekelompok anak-anak bersikeras membersihkan lumpur sisa banjir, sementara meja dan kursi memadati halaman sekolah. Tak lama, sosok perempuan berhijab dengan bercak noda cokelat di bajunya, wara-wiri di perpustakaan. Tangan kanannya membawa ponsel, berikut pel di tangan kiri.

“Duh, buku-buku yang di bawah lengket semua. Harus segera dibersihkan dan dijemur, syukur-syukur bisa dipakai lagi,” ujarnya sembari mengelus dada.

Sosok itu rupanya Kholif, Kepala SDN Sutojayan 3. Raut wajah sedih tak bisa dia sembunyikan, meratapi nasib sekolah yang dihuni sebanyak 83 siswa itu jauh dari kesan resik. Bahkan, imbas banjir bandang membuat ribuan koleksi buku di rak perpustakaan berbalut lendut dan tak lagi terbaca.

Saat membersihkan lumpur, enam ruang kelas dipenuhi guru dan peserta didik. Mereka gotong royong menyibak lumpur dari lantai dan tembok. Kotoran lalu mengalir, seiring proses mencuci bangku. Beruntung, cuaca tampak lebih cerah. Artinya, aset sekolah seperti meja, kursi, hingga buku-buku bisa dijemur di bawah terik matahari.

“Sekitar 1.500 buku basah akibat banjir, eman. Sementara kami langsung pisahkan dengan yang kering. Kalau alat elektronik aman semua,” tuturnya.

Dia tak mengelak bahwa kemelut peristiwa banjir bandang itu menghambat kegiatan belajar menghajar. Lebih-lebih, siswa kelas V hendak mengikuti asesmen nasional. Sementara, belajar dalam jaringan (daring) jadi solusi agar hak pendidikan anak tersalurkan. Perempuan ramah itu menyebut, pihaknya dibantu wali murid “nyicil” membersihkan sekolah. Dengan begitu, siap sewaktu-waktu ditempati lagi.

“Instruksi masih begitu (daring), tidak tahu sampai kapan. Sebagian dari mereka (siswa, Red) absen, karena bantu orang tua bersih-bersih rumah,” jelasnya.

BASAH KUYUP: Warga membersihkan rumah dari lumpur

Aktivitas serupa juga tergambar jelas di pelataran rumah warga. Sebagian jalanan tertutup kotoran air bah. Pemandangan yang tersaji, sofa dan meja sengaja dijemur berhias di sepanjang jalan. Salah satu hunian milik Tri Kumala, 46, masih tergenang air. Namun, itu sudah lebih baik lantaran metode menguras menggunakan diesel.

Dampak dari banjir itu, menurut dia terasa mengerikan. Tinggi air sepinggang orang dewasa dan merusak beberapa aset penting. Itu seperti televisi dan alat elektronik lainnya. Lima kasur yang ada basah dan penuh air kotor. Surat-surat berhasil diselematkan meski sempat terkikis.

“Ini terparah kedua sejak 2004 lalu. Banjir ini, saya dan keluarga mengungsi. Hari ini (kemarin, Red) baru mulai membersihkan rumah,” ujarnya.

Menguras air dari dalam rumah butuh waktu lebih dari 2 jam. Bahkan, dia mengerahkan lima kerabatnya untuk turut serta membantu. Sofa dan mesin cuci ditumpuk di teras, sedangkan listrik sengaja dipadamkan. Meski banjir telah reda, tetapi persoalan tak mandek begitu saja. Makanan dan air bersih jadi kebutuhan mutlak. Itu untuk menjamin keberlangsungan hidup.

Tri, sapaan akrabnya, menunjukkan area belakang. Satu gang kecil di utara bangunan rumah itu sebagai penghubung teras dengan sumur. Saat ditengok, sumber air itu keruh, tak bisa digunakan. Apabila dipaksakan untuk mandi, badan pun akan gatal-gatal. Dia berharap bantuan air bersih dapat segera didistribusikan. Dengan begitu, aktivitas warga usai banjir, perlahan bisa kembali normal.

“Karena air kan kebutuhan. Walaupun sudah ada yang disalurkan, tapi ada yang belum. Soal bencana ini, biar ini yang terakhir kali,” tandasnya. (*/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.