Semakin Dekat dengan Pembaca

Rogoh Kocek Ratusan Juta, Palang Pintu Kereta Api Ketanon Mulai Digarap

TULUNGAGUNG – Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Tulungagung dan petugas PT KAI terlihat sibuk koordinasi di perlintasan sebidang Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru. Ternyata, mereka telah memulai pengerjaan palang pintu dan pos jaga di tempat tersebut.

 

Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas (Lalin) Dishub Tulungagung Panji Putranto mengatakan, penentuan titik awal pengerjaan pembangunan tersebut mulai dilakukan. Mereka berkoordinasi dengan PT KAI Daop 7 Madiun pada bagian sinyal dan jalan rel agar pengerjaan tidak mengganggu komunikasi saat perjalanan kereta api.

 

“Selain sinyal, kami juga berkoordinasi terkait penentuan lokasi pos jaga, agar bangunan pos jaga tidak terhalang oleh utilitas yang lain. Berdasarkan kesepakatan, bangunan pos jaga dibangun pada bagian timur di sisi selatan jalan,” ujar Panji yang ditemui di perlintasan rel sebidang kemarin.

 

Dia melanjutkan, pembangunan tersebut diperkirakan akan selesai selama dua bulan ke depan. Terkait anggaran yang dikeluarkan, pembangunan pos jaga akan menghabiskan anggaran senilai Rp 100 juta dan Rp 200 juta untuk pengadaan palang pintu perlintasan. Sebab, menurutnya, palang pintu memang mahal karena ada perangkat elektronik untuk pengendaliannya.

 

Disinggung terkait kondisi alat early warning system (EWS) pada perlintasan di Desa Tanon, Panji menyebut jika memang alat tersebut masih dalam kondisi tidak berfungsi atau rusak. Meski alat tersebut sudah dihibahkan ke Dishub Tulungagung, berdasarkan kesepakatan, Dishub Provinsi Jatim masih memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki alat tersebut terlebih dahulu.

 

Dishub Tulungagung juga sudah berkoordinasi dengan Dishub Provinsi Jatim agar alat tersebut segera diperbaiki. Dengan demikian, ketika palang pintu perlintasan dan pos jaga selesai dibangun, kondisi EWS tersebut juga sudah berfungsi normal. Sementara untuk operasionalnya, pihaknya akan memilih beberapa orang untuk mengikuti diklat guna mengoperasikan palang pintu kereta api. Dalam hal ini, pihaknya akan meminta bantuan dari pelaksana palang pintu untuk memberikan pelatihan tersebut.

 

“Target kami pembangunan selesai, EWS juga berfungsi, jadi biar bisa seimbang. Dishub Provinsi juga setuju. Selain itu, kami juga memastikan pengerjaan palang pintu perlintasan dan pos jaga tidak menganggu arus lalu lintas,” ujarnya.

 

Barulah setelah pembangunan di perlintasan Desa Ketanon selesai, Dishub Tulungagung akan kembali mengajukan pembangunan palang pintu dan pos jaga di perlintasan sebidang Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, atau di sebelah utara UIN Tulungagung. “Kalau yang di UIN nanti akan kita usulkan pada perubahan anggaran tahun ini, semoga bisa disetujui,” pungkasnya.(jar/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.