Semakin Dekat dengan Pembaca

Rp 10 Miliar untuk Perbaikan 9 Titik Jaringan Irigasi

KABUPATEN BLITAR – Kerusakan jaringan irigasi akibat bencana hidrometeorologi pada Oktober lalu tidak akan ditangani pemerintah daerah. Sebab, hal ini menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Berantas.

“Kami sudah kordinasikan, untuk jaringan di wilayah Sutojayan akan ditangani oleh BBWS,” ujar Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Blitar, Hery Santosa, kemarin (11/12).

Ya, banjir yang terjadi dua bulan lalu mengakibatkan talut jaringan irigasi di Desa Bacem, Kecamatan Sutojayan, jebol. Tidak hanya itu, beberapa titik talut lain juga ambrol tergerus oleh derasnya debit air saat banjir. Misalnya di sebelah utara Bok Unud dan Kali Bogel di Kecamatan Sutojayan.

Pascabanjir, pemerintah daerah melakukan penanganan sementara di beberapa titik tersebut menggunakan anggaran dari belanja tak terduga (BTT). Namun, hal ini jelas tidak memenuhi standar bangunan karena sifatanya hanya sementara. “Kalau gak salah setelah dipasang sesek dan pasir karung, jaringan jebol di Desa Bacem itu ditindaklanjuti oleh BBWS juga,” katanya.

Meski sebagian infrastruktur ditangani BBWS, bukan berarti pemerintah daerah bisa bersantai. Hery mengatakan ada sekitar sembilan titik jaringan yang butuh perbaikan. Itu di luar Kecamatan Sutojayan. “Rencananya perbaikan ini akan dilakukan tahun depan,”katanya.

Disinggung mengenai anggaran yang bakal digunakan untuk perbaikan, Hery mengatakan kebutuhan tiap titik tidak sama. Namun jika diakumulasikan, nominal anggaran yang bakal digunakan mencapai lebih dari Rp 10 miliar. “Ada yang Rp 700 juta, ada juga yang sampai Rp 5 miliar seperti perbaikan jaringan di Dusun Kali Bentak, Desa/Kecamatan Panggungrejo,” jelasnya.

Diketahui, dampak benca hidormeteorolgi di Blitar selatan ini memang cukup parah. Bahkan, akses di Desa Panggungrejo ini sempat terputus karena infrastruktur di Dusun Kali Bentak ini rusak berat akibat tergerus air hujan yang berlangsung selama beberapa hari.

Sayang, tampaknya belum semua kebutuhan infrastruktur di bidang SDA ini tertangani. Misalnya, kebutuhan tanggul di Desa Ringinrejo, Kecamatan Wates, yang sebelumnya dikeluhkan oleh warga setempat. Karena tidak adanya tanggul, air dari Kali Gede yang ada di desa tersebut meluap dan masuk ke permukiman.

Terkait kebutuhan bangunan penahan ini, Hery mengaku belum ada usulan dari masyarakat. Dengan begitu, tahun depan belum ada anggaran untuk pembangunan tanggul tersebut. “Kalau tidak salah, usulannya jembatan. Tapi itu bukan di bidang kami,” jelasnya.

Untuk diingat kembali, pada pertengahan Oktober lalu, luapan sungai di desa ini sudah menghanyutkan sebagian perabotan rumah tangga mereka. “Saat banjir pertama kemarin, air sudah masuk rumah. Ada juga yang tingginya 1 meter,” ujar Sugito, tokoh masyarakat setempat.

Banjir pada Oktober lalu memang baru kali pertama terjadi. Namun, dampak yang ditimbulkan tidak hanya kerugian materiil. Masyarakat takut peristiwa serupa kembali terjadi, mengingat saat ini masih musim penghujan. “Kalau ada banjir lagi, pasti efeknya lebih besar lagi. Kemarin hanya perabotan, tapi tidak tahu nanati,” tandasnya. (hai/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.