Semakin Dekat dengan Pembaca

Rumpun Bambu Membawa Duka Warga Desa Banaran, Begini Kisahnya

TRENGGALEK-Puluhan masyarakat di RT 5, RW 3, Desa Banaran, Kecamatan Tugu, harus berjalan memutar beberapa kilometer jika ingin melintas sungai.

Pasalnya, jembatan gantung yang biasa mereka lalui untuk menyeberangi sungai wilayah tersebut Sejak Kamis (17/12) sore putus.

Berdasarkan informasi yang didapat Koran ini di lokasi, putusnya jembatan tersebut lantaran debit air sungai di lokasi tersebut tinggi.

Hal itu berakibat terkikisnya pondasi jembatan yang ada.

Bahkan hal tersebut diperparah jembatan sempat diterjang rumpun bambu yang dibawa air sungai tersebut.

“Kemarin itu yang hujan deras di Desa Prambon, tapi airnya mengalir ke sini hingga mengakibatkan arus sungai deras hingga merusak jembatan,” ungkap salah satu warga setempat Jarno.

Dia melanjutkan, ketika jembatan tersebut putus, warga merasa kaget.

Sebab pada detik-detik putus, menimbulkan suara keras yang terdengar warga.

Sehingga hal tersebut membuat warga pergi mendatangi sumber suara, guna melihat apa yang terjadi. “Jadi setelah jembatan putus, lokasi sini ramai sebab banyak warga yang datang untuk melihat,” katanya.

Tak ayal, putusannya jembatan tersebut sangat disesalkan warga sekitar.

Sebab merupakan penghubung antar Dusun Tawang dan Dusun Kedung Watu, Desa Banaran.

Selain itu, dengan adanya jembatan tersebut bisa memotong jarak dan memangkas waktu bagi masyarakat yang berangkat kerja maupun sekolah.

Sehingga karena telah putus, warga setempat harus memutar sejauh satu kilometer untuk melewati jembatan lainnya.

“Memang ketika berdiri jembatan ini hanya bisa dilalui satu kendaraan roda dua, sebab jika ada kendaraan dari sisi berlawanan maka harus bergantian. Namun itu sangat berguna bagi kami untuk memotong jarak dan menyingkat waktu,” keluhnya.

Putusnya jembatan tersebut dibenarkan oleh Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek Tri Puspitasari.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil peninjauan petugas di lapangan putusnya jembatan yang terjadi sekitar pukul 17.30 tersebut lantaran terjadi peningkatan debit air sungai dikarenakan tingginya curah hujan yang mengguyur sejumlah wilayah setempat mulai pukul 15.00.

Ditambah adanya air kiriman dari wilayah hulu juga membuat debit air semakin tinggi terutama di Desa Prambon, Kecamatan Tugu. Selain itu wilayah timur Ponorogo juga hujan lebat, sehingga debit air semakin meningkat.

“Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, dan bagi warga sekitar tidak sampai terisolasi karena masih ada jalur lain, kendati agak jauh,” imbuhnya.

Hal tersebut juga ditegaskan oleh Kapolsek Tugu, AKP Anwar.

Menurut dia, setelah mengetahui informasi tersebut petugas gabungan langsung ke lokasi.

Selain itu juga memasang rambu-rambu pemberitahuan di sejumlah titik krusial menuju jembatan tersebut untuk memberitahu pengguna jalan tentang kondisi jembatan yang rusak.

Ditambahkan, petugas juga sudah memasang garis polisi di sekitar jembatan.

Tujuannya agar masyarakat yang beraktivitas khususnya di area dekat lokasi tersebut lebih waspada lantaran debit air bisa sewaktu-waktu naik.

“Kami sudah pasang police line di situ, dan saat ini debit air sudah mulai surut, namun tetap imbau masyarakat agar lebih tetap waspada,” jlentrehnya. (jaz/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.