Semakin Dekat dengan Pembaca

Sejarawan Trenggalek Ungkap Fakta Unik Lato-Lato, Begini Peristiwanya…

TRENGGALEK – Baru-baru ini lagi hangat mainan tradisional thek-thekan atau lato-lato. Mainan itu ternyata merupakan salah satu permainan tradisional di Indonesia.

Bagaimana masuknya lato-lato ke tanah air? Ternyata begini penjelasan menurut Kasi Kebudayaan Disparbud Trenggalek, Agus Prasmono.

Dari sisi istilah, masyarakat cenderung akrab dengan sebutan thek-thekan daripada lato-lato.

Sebutan itu masuk akal karena saat dua bola berbahan plastik keras itu saling beradu, maka menimbulkan suara ‘thek‘.

Namun kini, masyarakat mulai membiasakan diri dengan menyebutnya lato-lato.

Menilik dari sisi kesejarahan, masuknya Lato-lato diduga bersamaan dengan datangnya penjelajah Tiongkok ke wilayah Indonesia.

Rentang tahunnya sekitar akhir abad ke-19 atau abad ke-20.

“Ya tradisional (lato-lato), itu asalnya dari Tiongkok, dan sejarahnya diduga kuat bersamaan dengan masuknya Tiongkok ke Jawa,” kata Kasi Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Agus Prasmono.

Agus menjelaskan, ada beberapa permainan tradisional di Indonesia. Misal, gobak sodor atau galasin, engklek, kelereng, dan termasuk lato-lato.

Namun, dalam runtutan kesejarahan, permainan tradisional itu sulit dideteksi.

“Menentukan tahun ini sulit karena sama tuanya. Tapi, kelereng itu mulanya dari permainan benthik, kemudian berinovasi menjadi bulat berbahan kaca,” ungkapnya.

Mengamati permainan tradisional, kata Agus, sebetulnya permainan zaman dulu mengalami evolusi.

Hal itu terjadi karena asimilasi budaya (peleburan dua budaya menjadi satu, Red), semisal budaya luar yang masuk ke tanah air.

Khususnya lato-lato, mainan yang belakangan ini digandrungi masyarakat dari berbagai kelas usia itu ternyata mengalami perubahan ukuran menjadi lebih kecil.

Meskipun ukuran itu tak memengaruhi esensi dari permainan tradisional tersebut.

“Dilihat dari mekanisme atau model, dari dulu juga seperti itu. Bentuknya bulat, ada tali pengaitnya, dan cara bermainnya pun sama,” ujar pria yang semasa kecilnya juga sering memainkan lato-lato tersebut.

Dengan viralnya lagi mainan lato-lato, Agus mengakui bahwa meskipun mainan itu dari orang luar negeri yang masuk ke Indonesia, lato-lato sudah menjadi bagian dari permainan tradisional milik Indonesia.

“Ibarat kuliner itu sudah asimilasi, sudah bercampur. Akhirnya menyesuaikan menjadi milik pribumi ini, jadi sekarang bisa dianggap permainan tradisional kita,” ujarnya menuturkan.

Untuk kini masyarakat yang sedang gandrung bermain lato-lato, bagi Agus itu merupakan fenomena positif.

Bagi kalangan anak khususnya, mainan itu dapat meminimalisasi potensi kecanduan gawai.

Tak sebatas itu, ketika seseorang memainkan lato-lato dengan benar, maka mainan itu akan aman.

Dari pengalaman Agus, tidak ada insiden dampak dari bermain lato-lato di lingkungannya.

“Saya positif saja daripada anak main game di HP, lebih baik main lato-lato. Asal melilitkan tali itu kencang maka akan aman. Tidak ada insiden tangan pemainnya ceklek (patah) karena main lato-lato. Itu tidak ada,” paparnya. (tra/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.