Semakin Dekat dengan Pembaca

Sertifikasi Halal Sebagai Tolak Ukur Kehalalan Suatu Produk?

Perusahaan-perusahaan dalam bidang industri food and beverage semakin kreatif menawarkan produk mereka mengikuti perkembangan zaman yang persaingannya semakin ketat, mulai dari menawarkan produk mereka dengan permainan harga yang semakin murah namun porsi yang banyak hingga menciptakan cita rasa baru yang dapat diterima oleh lidah masyarakat lokal maupun luar negeri untuk memperluas pemasaran produk. Namun perusahaan food and beverage yang melakukan pemasaran go international harus menyesuaikan produk mereka dengan budaya serta aturan yang terdapat disuatu negara. Banyak perusahaan industri food and beverage yang berasal dari luar negeri membuka gerai atau cabang di Indonesia, contohnya KFC yang berasal dari Amerika memiliki 727 gerai, McDonald’s berasal dari Amerika Serikat dengan 268 gerai, dan banyak restoran yang berasal dari luar lainnya yang memiliki cabang di Indonesia. Mayoritas agama di negara Indonesia adalah Islam, umat Islam diajarkan untuk memilah hal-hal apa saja yang masuk kedalam tubuh mereka dapat Halal dan mana yang dapat dikatakan Haram. Masyarakat Indonesia khususnya yang beragama Islam juga ingin mencicipi masakan dari restoran luar negeri yang terlihat menggiurkan untuk mereka, namun kembali lagi keajaran agama dimana kita sebagai umat Islam diharuskan untuk makan atau minum yang Halal, karena kekhawatiran masyarakat Islam yang takut akan memakan atau minum sesuatu yang dikatakan Haram pihak restoran franchise dianjurkan untuk mengajukan peromohonan sertifikasi halal ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) kemudian Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) akan memeriksa bahan-bahan yang digunakan restoran franchise dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan memberikan sertifikasi Halal kepada setiap restoran franchise yang membuka gerai di Indonesia. Tapi masih ada restoran franchise yang belum menerima sertifikasi halal, lalu apakah jika restoran tidak memiliki sertifikasi Halal namun dalam menunya sendiri tidak terdapat unsur Haram dapat dikonsumsi oleh masyarakat Islam di Indonesia? Hingga sekarang perdebatan ini mengakibatkan pro dan kontra.

Baru-baru ini di sosial media ramai dengan kasus boikot Mixue dikarenakan restoran beverage Mixue sendiri belum menerima sertifikasi Halal dari pihak MUI. Mixue menawarkan es krim dan minuman segar dengan harga yang murah, telah memiliki sekitar 360 gerai yang tersebar di Indonesia. Rasa yang segar dan harga relatif murah tentu saja menggiurkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun ada juga yang masih meragukan ke halal-an restoran beverage yang berasal dari Tiongkok ini karena hingga sekarang Mixue belum menerima sertifikasi halal. Pihak Mixue sendiri menyatakan klarifikasi di akun instagramnya @mixueindonesia bahwa “Saat ini memang benar Mixue belum memiliki sertifikasi Halal. Mixue sudah mengurus sertifikat Halal sejak tahun 2021 awal, namun memang belum selesai” beberapa faktor yang menyebabkan sertifikasi halal Mixue belum selesai tertulis didalam klarifikasinya juga diantaranya 90% bahan baku Mixue yang diimpor dari Negeri Tiongkok, sumber bahan baku tidak terpusat seluruhnya di satu kota, dan pandemi covid-19 dan lockdown pada saat itu. Belum memiliki sertifikat halal tidak sama dengan tidak halal, pihak Mixue juga menyatakan bahwa kandungan es krim maupun minuman mereka tidak memiliki kandungan alkohol, rum, ataupun babi didalamnya. Harga bahan-bahan yang disebutkan sebelumnya memiliki harga yang tinggi sehingga tidak mungkin pihak Mixue menjual produk mereka dengan harga murah jika mengandung kandungan alkohol, rum, atau babi.

Tidak hanya restoran franchise, restoran lokal seperti gacoan menyediakan makanan berupa mie pedas sebagai hidangan utama baru saja mendapatkan sertifikat halal mereka pada tanggal 1 Desember 2022 kemarin, lantas apakah sebelumnya restoran Gacoan menerima kritikan dari masyarakat Indonesia karena belum menerima sertifikasi halal? Banyak yang membahas restoran gacoan belum menerima sertifikasi halalnya dikarenakan nama produk yang tidak sesuai dengan syariat Islam, tapi masyarakat Muslim di Indonesia tetap mengkonsumsi produk dari restoran gacoan sendiri. Untuk mengurangi kekhawatiran masyarakat Muslim Indonesia restoran gacoan mengeluarkan statement bahwa 100% bahan baku mie gacoan berasal dari bahan baku yang sudah terverifikasi halal, proses produksi yang menggunakan fasilitas bebas dari kontaminasi najis, babi, dan turunannya, serta mie gacoan lebih mengarah pada makna “Jagoan” dalam bahasa Jawa.

Dalam hal ini dapat disimpulkan, sertifikasi halal digunakan sebagai verifikasi bahwa produk tersebut aman dikonsumsi atau digunakan oleh masyarakat Muslim. Jika sertifikasi halal belum diperoleh sebaiknya pihak restoran franchise maupun lokal membuat statement bahwa bahan-bahan yang digunakan tidak menggunakan bahan yang haram dalam ajaran Islam.

 

Artikel ditulis oleh: Gusti Tika Luthfiana Anggriani, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang

Leave A Reply

Your email address will not be published.