Semakin Dekat dengan Pembaca

Sulap Wilayah Pesisir Jadi KEE, 263 Hektare pesisir di Tulungagung Akan Jadi Tempat Penangkaran Penyu

Tulungagung – Jadi tempat penangkaran penyu, ratusan hektare wilayah pesisir Tulungagung ditetapkan menjadi kawasan ekosistem esensial (KEE). Penetapan wilayah pesisir yang disahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur tersebut meliputi Pantai Sanggar, Ngalur, Patok Gebang, dan Jung Pakis, Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tulungagung Makrus Manan mengatakan, pada akhir tahun 2022 lalu, empat wilayah pesisir di Tulungagung ditetapkan menjadi kawasan KEE oleh Gubernur Jawa Timur. Keempat wilayah tersebut meliputi Pantai Sanggar, Ngalur, Patok Gebang, dan Jung Pakis yang berada di Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung. “Sebenarnya usulannya dari tahun 2019, tapi SK KEE ini baru keluar di akhir tahun 2022 kemarin itu. Ada empat wilayah yang dijadikan kawasan konservasi. Sekarang ini namanya menjadi KEE Galur Pakis,” jelasnya kemarin (3/01).

Setelah menjadi kawasan KEE, terdapat beberapa aturan yang harus dilakukan agar tidak mengganggu ekosistem. Seperti halnya, pemsubatasan wisatawan, bangunan, serta kegiatan masyarakat yang melibatkan banyak orang. “Jadi, KEE ini merupakan kawasan perlindungan. Kalau pemanfaatannya masih diperbolehkan dengan permanfaatan tertentu. Contohnya, wisata konservasi dengan pembatasan, pembatasan bangunan permanen, dan kegiatan masyarakat yang melibatkan banyak orang,” ungkapnya.

Kawasan KEE berfungsi sebagai perlindungan ekosistem pada wilayah tersebut. Diketahui, terdapat banyak sekali biota laut serta hewan-hewan dilindungi pada wilayah KEE, salah satunya menjadi tempat penangkaran penyu jenis penyu hijau. “Penyu hijau ini mendarat di salah satu pantai kita di pantai Patok Gebang. Sekarang ini diawasi dan dikelola oleh kelompok masyarakat di sana,” ucapnya.

Kemudian, total luas KEE Galur Pakis ini terbentang seluas 260 hektare. KEE Galur Pakis tidak hanya berisi wilayah pantai, tetapi juga termasuk kawasan hutan yang berada di sekitar wilayah tersebut. “Selain penyu juga ada lumba-lumba yang sering terlihat di wilayah tersebut. Kalau di wilayah hutannya masih terdapat hewan kancil, burung-burung langka, dan juga macan rembah. Itu perlu dilindungi,” paparnya.

Berdasarkan laporan terdapat bulan-bulan tertentu untuk proses peneluran penyu hijau di kawasan KEE Galur Pakis. Diketahui, musim telur penyu hijau berkisar pada bulan Juni hingga September. Kemudian, satu ekor penyu hijau dapat bertelur sebanyak 100 butir. “Kalau umur penyu itu sudah di atas 10 tahun, maka bisa bertelur minimal 100 butir. Kalau awal-awal bertelur itu berkisar 40 hingga 60 butir,” ucapnya.

Mirisnya, dari ratusan telur tersebut, angka harapan hidup dari penyu hijau ini hanya sekitar 10 persen. Sebab, banyaknya predator pemangsa membuat angka harapan hidup penyu tersebut kecil. “Kalau menetasnya itu ya sekitar 95 persen lah dari jumlah telur. Tetapi, ketika dikembalikan ke laut, angka harapan hidup penyu hanya sekitar 10 persen atau bahkan bisa lebih kecil lagi. Karena belum bisa menyelam, jadi banyak predator pemangsa seperti elang,” ungkapnya.

Guna mengatasi hal tersebut, penangkaran penyu di Tulungagung sedikit menunda untuk melepaskan tukik atau bayi penyu ke laut. Menurutnya, usia efektif untuk melepaskan tukik yakni sekitar tiga minggu hingga tiga bulan. “Kalau baru menetas begitu terus dilepas ke pantai, dia belum bisa menyelam. Jadi, perlu menunda sementara waktu untuk melepaskan penyu ke laut,” tutupnya. (mg2/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.