Semakin Dekat dengan Pembaca

Sutikno Jupel Rumah Singgah Jenderal Soedirman di Kecamatan Panggul, Pelihara Setulus Hati

TRENGGALEK – JENDERAL Soedirman adalah panglima besar pertama di Tentara Indonesia. Beberapa hal yang menarik dari Jenderal Soedirman. Karir gemilang di kemiliteran itu dia dapat saat usianya masih muda.
Jenderal Soedirman memulai karir dari nol. Dia bukan pria berdarah biru, terlahir dari keluarga berekonomi rendah, dan memulai karir dari seorang guru SD. Begitu penggalan riwayat sosok pahlawan ini hingga menjadi pahlawan dambaan Sutikno.

Sutikno memang terhitung jadi jupel lima tahun lalu. Namun jauh sebelum itu, ternyata ayah dua anak itu sudah memelihara persinggahan Jenderal Soedirman sejak 2011 atau setelah Sutikno menjadi menantu dari cucu Moch. Ngabdi.
Moch Ngabdi adalah pemilik rumah yang kini menjadi cagar budaya. Penetapan cagar budaya tersebut karena rumah dengan dua kamar dan satu dapur itu menjadi saksi bisu bagaimana Jenderal Soedirman dulu memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.

Dari tutur lisan yang Sutikno himpun, alasan Jenderal Soedirman menginap ke rumah buyutnya itu masih misterius. Pasalnya, ada berbagai versi cerita bagaimana rumah Moch Ngabdi menjadi satu-satunya pilihan di antara rumah-rumah lainnya. “Mungkin karena mbah buyut (Moch. Ngabdi) istri saya termasuk tokoh agama, serupa dengan Jenderal Soedirman. Keterkaitan agama itu mungkin yang membuat sang jenderal memilih bersinggah di sini,” kata Sutikno, menyimpulkan dari berbagai tutur lisan yang ia dapat.

Jenderal Soedirman saat singgah tidak sendirian. Dia ditemani rombongan dengan berjalan kaki dari arah Trenggalek kota. Sampai ke rumah Moch. Ngabdi, mereka singgah pada 31 Januari-3 Februari 1949. Di rumah itu, mereka menyusun strategi sebelum melanjutkan gerilya ke arah Pacitan. “Rumah ini sekitar 1925 itu sudah ada,” kata pria berkulit sawo matang tersebut.
Rumah bersejarah sudah mendapat banyak renovasi. Mulai bagian lantai hingga interior pada bagian dapur yang terlihat modern. Sebagai lokasi cagar budaya, renovasi berbau modern justru berpeluang menghilangkan unsur kesejarahannya.

Sutikno mengakuinya. Akar hambatan itu bermula dari pekarangan yang ternyata milik perorangan (Moch. Ngabdi). Para ahli waris merasa rumah itu perlu direnovasi agar tidak bertambah rusak. Bahkan, koramil pun turut merenovasinya. “Karena rumah ini milik perorangan,” ujarnya.
Kini nasi sudah menjadi bubur. Rumah cagar budaya persinggahan Jenderal Soedirman menyisakan penampakan dari luar. Bagian interior terutama dapur sudah modern. “Kamar untuk Jenderal Soedirman tidur masih ada, dipannya juga masih orisinal,” kata dia.

Kendati banyak berubah, itu tak membuat Sutikno merasa enggan. Dia masih semangat merawat rumah itu dengan cara membersihkannya secara berkala. “Dalam kesehariannya, rumah ini kosong. Biasanya kalau ada wisatawan, ada nomor kontak saya yang saya tempel di depan rumah,” ujarnya. (*/c1/rka)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.