Semakin Dekat dengan Pembaca

Taburi Lantai Kandang Pakai Sekam, Kurangi Bau Kotoran

KABUPATEN BLITAR – Membangun usaha tidak selalu harus menggunakan modal besar. Termasuk budi daya ayam elba. Telur ayam ini tidak dijual per kilogram (kg), tetapi per butir.

Ruangan berukuran 4×4 meter itu menjadi habitat yang nyaman bagi puluhan unggas jenis ayam elba. Sebagian diumbar atau tidak dikandangkan dalam baterai. Itu adalah indukan yang nanti diambil telurnya untuk diperanakkan. Sebagian merupakan ayam dewasa yang belum produktif.

Siang kemarin (6/12), beberapa siswa SMKN 1 Kademangan tampak keluar masuk kandang tersebut. Tidak hanya memberi pakan, mereka juga terlihat membawa sekam. Sisa penggilingan gabah itu ditabur di lantai kandang. Konon untuk meminimalkan bau yang ditimbulkan dari kotoran unggas tersebut “Beberapa hari ini kan hujan, jadi harus diberi sekam agar tidak begitu bau,” ujar Rissa, seorang siswa jurusan peternakan.

Ya, budi daya unggas ini bukan untuk kepentingan komersial, melainkan untuk edukasi. Tidak hanya pemeliharaan, di laboratorium sederhana itu juga dilengkapi dengan sarana penetasan. Karena itulah, siswa tidak hanya menghitung laba dari produksi telur, tetapi juga paham cara menghasilkan anakan alias day old chicken (doc).

Materi budi daya ayam elba belum lama dilakukan di sekolah tersebut. Sekitar dua tahun terakhir. Kendati begitu, siswa dan guru sudah mencicipi hasil produksi. Utamanya telur ayam yang konon berasal dari arab itu. “Kenapa pilih ayam elba, karena memang telurnya mirip dengan telur ayam kampung,” kata Qoniah, seorang guru peternakan.

Suplai telur ayam kampung sementara ini masih terbatas. Berbeda dengan ayam ras yang banyak dibudidayakan di Bumi Penataran. Tak pelak, budi daya ayam elba ini bisa menjadi salah satu peluang usaha yang cukup menggiurkan. Mengingat, kualitas telur ayam jenis ini nyaris tidak beda dengan ayam kampung pada umumnya.

Tak hanya itu, dari sisi produksi, ayam jenis ini jauh lebih produktif. Tidak seperti ayam kampung, ayam elba bertelur nyaris setiap hari. “Ukurannya lebih kecil dari ayam petelur, warnanya juga putih, tidak cokelat,” tuturnya.

Selain karakter telur yang mirip, harga jualnya juga sama. Per butir telur ayam elba ini sekitar Rp 1.500. Padahal, perawatan dan pakan dalam budi daya ayam ini tidak berbeda.

Untuk sementara, pakan ayam elba menggunakan pelet yang mudah didapatkan dari kios. Pernah juga mencoba self mixing alias mencampur sendiri komponen pakan untuk meminimalkan biaya produksi. Namun, hal ini butuh proses yang lebih njlimet dan waktu lebih lama. Karena itulah, hal tersebut hanya sebatas pengetahuan umum untuk siswa dan tidak diaplikasikan dalam budi daya. “Yang kami coba fokuskan adalah membuat produk organik sehingga lebih ramah dikonsumsi,” terang Qoniah.

Produk organik bukan karena tidak menggunakan bahan kimia dalam proses budi daya. Namun, sekolah berusaha memberikan pengetahuan materi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas produk. Misalnya, tidak menggunakan antibiotik. “Kami juga beri materi untuk membuat telur omega. Caranya dengan menambahkan minyak ikan dalam pakan unggas. Harga telur omega ini bisa dua kali lipat. Per butir Rp 3 ribu,” jelasnya.

Selain produksi telur, ada beberapa indukan yang disiapkan untuk penangkaran. Pejantan dan betina itu ditempatkan pada lokasi yang terbuka agar bisa bereproduksi dengan maksimal. Terlalu banyak betina bisa memengaruhi kualitas telur. Sebaliknya, jika terlalu banyak pejantan terlalu boros pakan. “Idealnya, satu pejantan itu untuk delapan betina,” katanya.

Di laboratorium ini juga pernah melakukan inseminasi buatan (IB). Namun, hal itu dinilai terlalu ribet dan tidak efektif untuk budi daya ayam elba. “Kalau praktik ada, itu sebagai pengetahuan bagi para siswa,” tandasnya. (*/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.