Semakin Dekat dengan Pembaca

Tambah Fasilitas, Bakal Ada Krematorium di Talun

KABUPATEN BLITAR – Tak lama lagi bakal ada fasilitas kremasi atau pengabuan di Bumi Penataran. Bukan pemerintah daerah, fasilitas umum ini dibangun dari donasi pihak luar. Hal ini diungkapkan Wakil Bupati Rahmat Santoso.

“Beberapa hari lalu, kami dapat kontak dari keluarga dan rekan-rekan di Surabaya. Mereka menyampaikan ada bantuan dana untuk bangun krematorium,” ujarnya, kemarin (5/12).

Rahmat mengatakan, kabar tersebut lantas diteruskan pada beberapa pihak terkait. Tak terkecuali, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Blitar yang nantinya menjadi pengguna fasilitas tersebut. Lokasi pembangunan fasilitas itu juga masih dalam komunikasi. Kemungkinan ada di area atau aset milik lembaga keagamaan tersebut. “Kami juga sudah koordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dengan perizinannya,” katanya.

Menurut dia, fasilitas tersebut memang diperlukan untuk umat Hindu dan Konghucu. Meski begitu, pihaknya mengusulkan agar bangunan tersebut didesain sedimikian rupa sehingga bisa dimanfaatkan atau dinikmati oleh masyarakat umum.

Dia mencontohkan fasilitas pemakaman umum yang ada di kota-kota besar. Tidak ada kesan angker atau menyeramkan, tetapi justru sering dimanfaatkan untuk acara umum seperti resepsi pernikahan atau pesta lainnya. “Mungkin konsepnya dibuat seperti destinasi wisata religi atau sejenisnya, yang penting tak terkesan seram,” harapnya.

Sementara itu, Ketua PHDI Kabupaten Blitar, Lestari mengaku sejak lama mengusulkan adanya krematorium. Sayangnya, hingga kini belum terwujudkan. Karena itu, selama ini terpaksa ke luar daerah untuk kepentingan kremasi. “Selama ini kami terkendala lokasi dan biaya yang cukup besar,” katanya.

Lestari menambahkan, ada tanah milik PHDI yang nanti bisa dimanfaatkan. Yakni, di sebelah timur Pura Agung Praba Bhuana di Desa Kendalrejo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. “Luasnya sekitar 700 m². itu tanah yang dibeli oleh PHDI dan sekarang dalam proses pengurusan sertifikat,” ungkapnya.

Dia menuturkan, kebutuhan biaya untuk membangun fasilitas ini beragam. Tergantung fasilitas dan pelayanan yang digunakan. Namun, jika mengacu pada krematorium milik TNI AL Juanda, kebutuhannya sekitar Rp 500 juta sampai Rp 700 juta. Dengan fasilitas 2 tungku pembakaran, maka mampu melakukan proses pembakaran 8 kali per tungkunya. “Itu hitungan kasar, tergantung dari kualitas dan fasilitasnya,” terang Lestari.

Pihaknya sepakat fasilitas ini desain atau dikonsep lebih umum. Tidak hanya untuk umat Hindu, tetapi bisa juga melayani umat Konghucu atau China yang juga membutuhkan fasilitas perabuan. “Seperti di Juanda itu, jadi juga melayani umum, tidak hanya umat Hindu,” tandasnya. (hai/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.