Semakin Dekat dengan Pembaca

Tampil Beda, CMB Band prakarsai Bahana Musik Bambu di Trenggalek

TRENGGALEK- BAMBU merupakan tanaman yang biasa kita jumpai. Di Trenggalek, sudah ada wilayah-wilayah yang mengolah tanaman ini untuk perabotan, alat makan-minum, atau karya seni yang berestetika lain. Namun, di antara itu masih segelintir orang yang memanfaatkan bambu untuk merambah ke dunia musik.

Baru sekitar dua tahun lalu, CMB Band mulai bereksistensi menjejaki dunia musik di Trenggalek bermedia bambu. CMB Band merupakan grup musik asal Trenggalek. Para personel biasa nongkrong di base camp-nya, yaitu RT 16/RW 05, Desa Bendoagung, Kecamatan Kampak.
Salah satu personel CMB Band, Fajar Arif Prasetyo menceritakan, CMB Band berangkat dari orang-orang yang hobi bermusik sehingga tak memandang musik sebagai pekerjaan utama. “Ada di antaranya yang bekerja di dekor, budi daya lele, atau yang lain,” kata Fajar.

Merintis CMB Band, kata Fajar, pasti mengalami lika-liku. CMB Band mirip dengan grup band lain, menginginkan merilis lagu perdana. Namun, itu butuh biaya untuk rekaman lagu.

Dari masalah itu pun memunculkan ide untuk membeli angklung. Para personel pun patungan untuk bisa membelinya. “Angklung itu belum ada (grup musik yang menggunakannya di Trenggalek, Red),” ungkapnya.

Kemudian, CMB Band mulai menampakkan eksistensinya dengan cara nekat mengamen di persimpangan jalan di Trenggalek. Dari kenekatan itu, Fajar mendapatkqan pengalaman bahwa antusiasme masyarakat terhadap alat musik angklung cukup baik. Ada beberapa di antara mereka yang menyawer ketika merasa terhibur dengan irama musik angklung. “Dua kali ngamen, kemudian diterpa Covid-19,” ucapnya.

Dari saweran itu, CMD Band memperoleh dukungan dari masyarakat untuk membiayai rekaman lagu. Para personel pun kian bergairah untuk berkarya di dunia musik.

Benar bila pandemi Covid-19 sempat mengakibatkan CMB Band vakum. Di masa itu, para personel juga khawatir dengan paparan virus Korona. “Tapi tidak vakum banget (sesekali masih latihan, Red),” ungkapnya.

Kebiasaan latihan itu signifikan mengasah kemampuan para personel. Kini mereka lihai mengoperasikan alat musik tradisional dengan elektrikal. Alhasil, perpaduan alat musik tersebut mampu memberikan sentuhan baru dalam bahana musik di Trenggalek.

Karakter musik CMB Band pun mampu menarik minat masyarakat. Kini, CMD Band sudah dikenal, dan sering menerima undangan mengisi acara musik di pernikahan-pernikahan. “Kini (genre lagu, Red) pindah ke interaktif, bisa pop, musik wedding, event,” ujar Fajar.
Menjadi grup band unik di Trenggalek, Fajar berharap ekosistem musik di kabupaten ini semoga terus guyub rukun. “Band-band lain bisa bersatu, ibaratnya disangga bareng. Punya karya kita buat sama-sama. Awal mula musik, ibarat kami juga di bawah, disangga bareng,” kata personel grup band yang berpartner dengan Neverclose Entertainment tersebut. (*/c1/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.