Semakin Dekat dengan Pembaca

Taryaningsih, Wanita asal Trenggalek Penggagas Kawasan Inklusif Satu-satunya di Indonesia

TRENGGALEK – Disabilitas merupakan salah satu kelompok rentan untuk bisa mendapatkan hak-haknya layaknya manusia normal. Fenomena itu yang membuat Taryaningsih berapi-api.

Dia ingin para disabilitas diakui. Bukan diakui karena keberadaannya saja, tapi juga turut mendukung mereka dari segi pelayanan umum hingga fasilitas publik.

Kawasan inklusif di Desa Prambon, Kecamatan Tugu, menyajikan pemandangan unik.

Kawasan itu seolah menjadi kampung para disabilitas, orang-orang yang berkebutuhan khusus.

Ada beberapa jenis disabilitas di sana, mulai tunadaksa (disabilitas fisik), tunarungu, tunawicara, tunanetra, hingga tunagrahita (disabilitas kognitif). Di kawasan itu, mereka para berkebutuhan khusus hidup damai.

Para difabel kini juga sudah bisa membaur dengan penduduk sekitar. Eksistensi mereka tak cuma diakui. Ditandai dari penjual sayur keliling yang pandai bahasa isyarat.

Warga lokal pun tak segan mengundang mereka tasyakuran atau kegiatan adat lainnya.

Kawasan itu menjadi impian dari para difabel. Di sana, mereka mendapat apa yang mereka butuhkan.

Fasilitas publik, mulai dari guiding block tactle atau porselen khusus jalur tunanetra, rumah inklusif serba pendek untuk tunadaksa, dan sebagainya.

Taryaningsih, seorang wanita yang menggagas kawasan inklusif di Desa Prambon, Kecamatan Tugu, itu mendapat ilham dari masalah-masalah yang dialami para disabilitas.

Sedangkan masalah yang paling mencolok itu adalah kesejahteraan para disabilitas.

Menurut Tarya, kebutuhan dasar manusia itu sandang, pangan, dan papan. Sementara rumah masuk kategori papan.

Ada sebuah kasus dimana kaum difabel hendak mengambil program perumahan bersubsidi, tapi mereka gagal saat mengurus syarat pinjaman ke bank.

“Ada anak yang sudah menikah. Mau mengambil perumahan bersubsidi, di situ ternyata bank tidak memberikan pinjaman kepada disabilitas yang tunarungu, tunawicara.

Alasannya, akad itu tidak bisa dijelaskan. Kalau tunanetra, tidak bisa melihat itu,” ujarnya.

Dengan keterbatasan para difabel, Tarya sempat mengajukan untuk menjadi translator atau menjadi pihak yang akan membantu membacakan syaratnya.

“Katanya tetap tidak sah, karena yang bisa pinjam itu adalah disabilitas fisik,” ungkapnya.

Situasi itu membuat Tarya menjadi berpikir, para disabilitas akan terus kesulitan berkembang dan cenderung stagnan.

“Ketika mereka sudah lulus sekolah, sudah dewasa, lalu nggak punya rumah, mereka akan kembali ke orang tua. Menunggu warisan atau ikut kerabat,” jelas wanita berhijab itu.

Tarya terbilang nekat dalam merealisasikan kawasan inklusif.

Niatan awal, ada stakeholder yang membantu melalui CSR, kemudian dipasang plakat rumah ada tanda donatur, ternyata itu cuma di angan-angan.

Biaya pembangunan rumah itu ia tanggung mandiri.

Rincian biaya untuk satu rumah dengan ukuran 4×8 meter mencapai Rp 72,5 juta. Kini, sudah 14 rumah yang sudah berdiri, meskipun belum semua dihuni.

Tarya lantas menuturkan agar para disabilitas tidak malas bekerja.

“Sudah punya rumah tapi tidak bisa menghidupi diri sendiri itu percuma. Jadi kita harus bisa produksi, satu rumah satu usaha,” tegasnya.

Sejak masa pembangunan kawasan inklusif pada 2019, Tarya mengamati, banyak perubahan yang dialami para difabel.

Kawasan itu memunculkan budaya baru masyarakat inklusif. Jika dulu, para difabel jarang terlihat beribadah bersama, kini mereka bisa salat berjamaah.

“Dan ini yang pertama kali di Indonesia, aksesibilitas jalan. Guiding block dan jalur kursi roda yang mengarah ke rumah-rumah warga. Inilah yang disebut kawasan inklusif, berdampingan, punya rumah dan bisa menghidupi diri sendiri,” ujarnya.

Dari berbagai gagasan Tarya, ada satu gagasan yang masih menjadi impian, yakni mampu memberikan gratis rumah kepada para disabilitas.

“Harapan saya itu, kita menjual rumah Rp 50 juta sertifikat atas nama lengkap. Tapi impian saya maunya ini aku itu gratis,” pungkasnya. (*/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.