Semakin Dekat dengan Pembaca

Tekong Penyubur PMI Ilegal Tulungagung Susah Dituntaskan

Tulungagung- Masih adanya keberadaan tekong menjadi pupuk penyubur pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal yang berasal dari Tulungagung. Kendati demikian, eksistensinya susah untuk dituntaskan bahkan sangat susah untuk dilakukan pemantauan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Tulungagung Agus Santoso menjelaskan, keberadaan PMI ilegal di Tulungagung susah untuk dituntaskan. Dari tahun ke tahun keberadaaannya masih saja. Karena di satu sisi, pihaknya tidak bisa begitu saja menghadang para tekong atau penyalur PMI ilegal yang ada.  “Gerakan tekong seperti apa, kita tidak bisa memantau persis. Karena mereka itu berada di luar sistem yang ada,” katanya.

Dampak ketika masyarakat berangkat tanpa prosedur yang ada, bisa saja dipulangkan kembali ke tanah air atau hal-hal merugikan lainnya. Sebagai pengingat, pada tahun ini saja terdapat lima PMI bermasalah asal Tulungagung yang dipulangkan kembali dari negara Malaysia.

Sementara yang bisa dilakukan hanyalah upaya sosialisasi masif kepada masyarakat yang ingin menjadi PMI untuk memperkecil kemungkinan PMI ilegal. Itu dilakukan langsung dari desa ke desa agar masyarakat mengetahui sisi buruk menjadi PMI ilegal. Sebisa mungkin masyarakat diberi pengetahuan tentang bagaimana seharusnya menjadi PMI sesuai prosedur yang ada.  “Kita jauhkan informasi yang tidak benar untuk menjadi PMI, dimulai dari desa,” katanya.

Dia menggarisbawahi beberapa hal yang cukup penting bagi calon PMI, yakni ketika berangkat harus tidak ada permasalahan di dalam keluarga masing-masing. Karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, biang kerok masalah sosial PMI yang ada adalah karena ketika berangkat keadaan keluarga sedang tidak harmonis.

“Banyak sekali permasalahan PMI yang timbul akibat keluarga yang tidak harmonis saat mereka berangkat,” katanya.

Selain menjadi PMI, sebenarnya angkatan kerja yang ada di Tulungagung juga bisa bekerja pada sektor lainnya, seperti pada perusahaan yang ada maupun membuat usaha sendiri. Seperti apa yang dicanangkan, bahwa tahun depan pihaknya mengusahakan 60 persen angkatan kerja baru yang ada bisa tertampung di dunia pekerjaan.

“Tapi melihat kemampuan APBD Tulungagung seperti apa, kita berusaha dengan memaksimalkan anggaran di luar APBD untuk memaksimalkan solusi bagi angkatan kerja yang ada di Tulungagung,” katanya.

Pemaksimalan angkatan kerja yang ada, lanjut dia, bisa dilakukan dengan beberapa hal. Pertama, mengakomodasi tenaga kerja yang memasuki masa pensiun di perusahaan-perusahaan di Tulungagung, kemudian angkatan kerja yang ada dipersiapkan untuk mengisi tempat kosong yang ada di perusahaan tersebut. Kedua, penciptaan lapangan kerja dengan melakukan pelatihan bagi masyarakat yang belum bekerja, serta pemberian alat agar mereka bisa mandiri dengan membuat usaha sendiri. (mg1/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.