Semakin Dekat dengan Pembaca

Tekuni Bidang Fotografi Hingga Olahraga, Hasilkan Sampai Puluhan Juta

Siapa sangka, foto-foto candid saat berolahraga dapat mendatangkan cuan. Itulah yang dilakoni Rizqi Adi Sofyan, pemuda asal Desa Ketanon,  Kecamatan Kedungwaru. Bermula hobi memotret kereta api, pria berusia 32 tahun ini dapat meraup puluhan juta rupiah dari hasil memotret momen olahraga.

MATLAUL NGAINUL AZIZ, Kota, Radar Tulungagung-Mengabadikan momen penting melalui bingkai foto memang harus dilakukan. Namun, ini berbeda, momen-momen saat berolahraga diabadikan dengan jeli oleh Rizqi Adi Sofyan. Foto candid bertema olahraga tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. bahkan, mereka rela merogoh kantong untuk membeli foto-foto tersebut. Tak ayal, Rizqi -sapaan akrabnya- sukses mendapatkan puluhan juta rupiah dari kepiawaiannya ini.

Dia masuk dunia fotografi tergolong sudah lama, sekitar tahun 2009 silam. Berawal suka memotret kereta api dengan handphone (HP), hingga mencoba memotret wedding dan wisuda. “Dulu awalnya suka memfoto kereta api, sampai sama teman-teman dijuluki sepur. Itu masih pakai handphone, baru setahun setelahnya beralih menggunakan kamera, lalu mulai ambil-ambil job foto wedding dan wisuda,” jelasnya kemarin (19/01).

Dia tak lama bertahan pada pasar foto weeding dan wisuda. Sebab, pertarungan harga pada pasar foto wedding dan wisuda tersebut sudah saling menjatuhkan. Kemudian, sekitar bulan Februari tahun 2021 lalu,  tercetus ide untuk mencoba memotret momen-momen olahraga. “Pada saat itu kan ramai sekali orang sepedahan. Dari situ tercetuslah ide untuk mencoba memotret momen-momen tersebut. Alhamdulillah sampai sekarang masih melakukannya,” ucapnya.

Pria kelahiran 1991 ini sering kali memotret olahraga sepeda di wilayah ledeng Waduk Wonorejo. Dia juga hafal spot-spot foto strategis pada wilayah tersebut, sembari menunggu momen pas. Biasanya memotret olahraga sepeda ini pada Sabtu dan Minggu, berangkat pukul 05.30 WIB. “Paling sering itu foto di wilayah ledeng sekitaran Waduk Wonorejo. Kalau di situ sudah hafal spot-spot foto yang bagus sebelah mana. Nunggu momen, ada yang bagus dijepret. Berangkatnya pagi sekitar jam 05.30 WIB. Kalau kesiangan, fotonya terlalu over exposure,” paparnya.

Tak hanya itu, dia juga kerap memotret di event-event olahraga sepeda. Bahkan, dia sering bolak-balik pergi keluar kota untuk memotret momen tersebut. “Biasanya kalau ada event-event sepeda itu saya juga memotret di sana. Ya seperti event road bike gitu,” ungkapnya.

Dari hobi memotret olahraga sepeda ini, dia sukses mendapatkan untung puluhan juta rupiah. Foto-foto tersebut dibanderol dengan harga mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu per foto. Hasil karya dari mengabadikan momen olahraga tersebut mendapatkan respons positif dari pesepeda di Tulungagung. Bahkan, tak sedikit dari mereka memberikan uang secara sukarela. “Kalau dihitung, totalnya dari awal hingga sekarang itu ada sekitar Rp 50 juta. Kalau foto-foto di ledeng itu harganya Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per foto. Kalau foto-foto event Rp 100 ribu per foto. Kalau pas event, satu kali event saja bisa sampai jutaan rupiah,” ucapnya.

Tak puas hanya di olahraga sepeda,  dia juga merambah pada olahraga-olahraga lain seperti sepatu roda.

Menurut dia, fotografi olahraga itu menjadi tren tersendiri lantaran baju-baju olahraga semakin fashionable. “Orang-orang itu kalau pas olahraga paling hanya bisa selfie. Jadi, apa yang saya lakukan ini sedikit banyak bisa membantu mereka. Inginnya juga merambah ke olahraga lain tidak hanya sepeda, seperti sepatu roda misalnya,” tutupnya. (*/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.