Semakin Dekat dengan Pembaca

Telusuri Jejak Sejarah dan Struktur Candi Sanggrahan yang Dibangun pada Abad ke-13

TULUNGAGUNG – Bangunan peninggalan Majapahit yang terletak di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, termasuk candi yang terbesar di Kota Marmer. Bangunan yang dimaksud bernama Candi Sanggrahan. Candi tersebut erat kaitannya dengan Candi Gayatri yang tidak jauh dari lokasinya.

Tulungagung memiliki candi yang megah dengan bangunan besar. Jika ditelisik luas dari bangunan ini berukuran panjang 12,60 meter, lebar 9,05 meter, dan tinggi 5,86 meter. Bangunan itu bernama Candi Sanggrahan.

Candi ini bisa dijumpai setelah menempuh perjalanan 10 sampai 15 menit dari pusat pemerintahan Kota Marmer. Area candi memang tidak seluas jika dibandingkan Candi Penataran yang ada di Kabupaten Blitar. Namun kondisinya tetap terawat dan masih digunakan oleh masyarakat sekitar untuk beraktivitas.

Seperti yang terlihat kemarin (2/2), beberapa anak ditemui sedang melakukan pencak silat di area candi. Tentunya mereka telah izin dengan juru pemelihara (jupel) candi yang bernama Zaenuri. Rumah laki-laki itu tidak jauh dari Candi Sanggrahan, hanya 20 meter saja sehingga memudahkan pekerjaanya.

“Saya sangat mempersilakan siapa saja yang ingin melakukan kegiatan di Candi Sanggrahan. Asal izin dengan saya, selain itu kegiatannya harus positif tidak yang aneh-aneh,” kata Zaenuri yang ditemui kemarin.

Dia menjelaskan bila bangunan yang lebih dikenal masyarakat setempat sebagai Candi Cungkup ini hanya memiliki separo struktur saja yang masih utuh. Struktur kaki sampai badan saja yang masih terlihat, sementara bagian atas sudah tidak nampak lagi. Jelas saja, menurut Zaenuri, candi ini telah ada antara abad ke-13 sampai abad ke-16.

Lebih rinci, Zaenuri menyebut bila candi ini diperkirakan ada di masa Kerajaan Majapahit. Sekitar tahun 1350, yang mana dulunya merupakan candi tempat penyimpanan abu kerabat raja Majapahit. Hal tersebut masih sebatas perkiraan saja. Karena pada sekitar candi tidak ditemukan prasasti yang menunjukkan waktu dan nama raja yang berkuasa saat candi ini dibuat.

Namun terdapat Arca Budha sebanyak lima buah yang memiliki lambang berbeda-beda. Sesuai dengan arca yang ditemukan di bangunan itu, relief candi juga memiliki corak Budha. Karena itu disimpulkan jika candi ini memiliki latar keagamaan Budha. Bahkan pada masa itu, candi ini dipercaya digunakan sebagai tempat pendharmaan Bhre Paguhan yang diriwayatkan dalam Kitab Negarakertagama.

“Bila ditelisik dari namanya, Candi Sangrahan ini berarti ‘Singgah’. Karena Candi Sanggrahan pernah dipergunakan untuk istirahat rombongan pembawa jenazah Gayatri menuju Candi Gayatri yang berada di Kecamatan/Desa Boyolangu,” tukasnya.

Struktur candi yang berbahan dasar batu andesit dan batu bata tersebut berbentuk bujur sangkar yang terdiri dari bangunan kaki dan tubuh. Penggunaan batu bata pada candi ini terdapat pada bagian selasar, gerbang, dan candi perwara atau pendamping. Namun sayang, dua candi perwara yang berada di timur struktur utama sudah runtuh tak tersisa, dan bagian atap juga telah tidak ada karena termakan usia.

Zaenuri menceritakan bila pada relief yang terdapat di bagian kaki candi, menceritakan seekor harimau yang tertipu oleh seekor kambing. Alur cerita tersebut diperkirakan bagian dari cerita Tantri Kamandaka, yaitu prosa Jawa Kuno yang menceritakan hewan atau satwa.

“Masih ada ditemui orang sembahyang pada Candi Sanggrahan, namun pada era milenial ini sudah sangat jarang, hanya warga di Desa Sanggrahan saja yang mengadakan selamatan sebelum mengadakan hajat,” imbuh laki-laki yang membawa sepuntung rokok ini.

Dari pengakuan Zaenuri, peninggalan kerajaan Majapahit ini pernah dipugar pada tahun 2015 lalu. Bangunan candi direkonstruksi seperti awal ditemukan. Selain itu, secara bentuk memang mirip seperti Candi Rimbi yang ada di Kabupaten Jombang. Namun setelah dipugar, panil relief yang seharusnya berisi gambar ternyata tidak ada lagi. Hal itu dikarenakan tidak ada contoh relief asli seperti yang ada di masa lampau.

Selain digunakan warga setempat, menurut Zaenuri, pada hari tertentu candi dikunjungi oleh pelajar SD dan TK untuk keperluan edukasi. Selain itu, candi masih digunakan penganut Budha untuk hari raya keagamaan. “Kalau Hari Raya Waisak, candi kadang juga digunakan sebagai tempat prosesi keagamaan,” tutupnya. (*/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.