Semakin Dekat dengan Pembaca

Tempat Bisnisnya Dijarah dan Dibakar, Kini Susanto Memilih Wakafkan Diri di Ladang Dakwah   

TULUNGAGUNGMasa kelam kerusuhan tahun 1998 sangat melekat diingatan Susanto. Sembari berkaca-kaca, dia menceritakan 11 dari 12 cabang bisnis yang ditekuninya waktu itu sempat dijarah dan dibakar sekelompok warga. Tidak hanya itu, dia harus kehilangan anak pertamanya saat masih berumur 3 hari. Bak jatuh tertimpa tangga, kedua hal tersebut menjadi pecutan bagi kehidupannya.

Pria berumur 49 tahun tersebut menceritakan sebelum menjadi relawan kebencanaan LMI, dulunya hanya memikirkan kepentingan pribadinya saja. Sebenarnya kehidupannya waktu itu bisa dibilang mapan. Dengan memiliki 12 cabang bisnis tersebar pada 12 titik di Jakarta, membuat hidupnya sangat berkecukupan. Namun kemapanan tersebut harus raib pada kerusuhan tahun 1998 silam. “11 cabang bisnis saya yang tersebar pada mall-mall di Jakarta ini dijarah dan dibakar kelompok masyarakat pada kerusuhan itu dan hanya tersisa satu berada di sekitaran stasiun Pasar Senin,” jelasnya kemarin (28/11).

Cerita pedih dan Susanto tidak hanya berhenti di situ. Selang beberapa bulan, anak pertamanya berpulang diusia baru menginjak 3 hari. Matanya terlihat berkaca-kaca saat menceritakan hal tersebut. Jika diibaratkan rumah kondisinya pada waktu itu bagaikan jatuh tertimpa tangga sekaligus atap rumah. “Pada waktu itu saya merasa Allah itu sudah meninggalkan saya. Banyak teman-teman waktu itu memilih untuk mengakhiri hidupnya, saya justru berusaha menenangkan teman-teman terdampak. Saya sadari ini merupakan titik takdir dan sadar ini terjadi karena kurangnya sedekah serta berpikir hanya untuk kepentingan pribadi,” ucapnya.

Dua peristiwa hebat mengguncang kehidupan Susanto tersebut tidak membuatnya patah semangat dalam menjalani kehidupan. Tak lama berselang keponakan Susanto mengajaknya untuk mengikuti sebuah majelis dzikir. Di situlah dia menemukan ketenangan baik jiwa maupun raga. “Di situlah saya merasa, caranya Allah membersihkan diri dan membersihkan harga dengan cara-cara seperti itu. Kalau mau mendekat dengan Allah, mau benar-benar bertaubat dan insaf harus bersih semua. Dengan caranya Allah membersihkan itu kemudian saya niatkan untuk bertaubat dan memilih kehidupan yang dapat memberikan manfaat kepada sesama,” terangnya.

Dua tahun berselang, pada tahun 2002 Susanto diminta gurunya yakni Syekh Maulana Azhari untuk berpindah dari Jakarta. Dari situlah dia memilih berpindah ke Tulungagung. Setelah masuk Tulungagung dan berkenalan dengan teman-teman dakwah. Pada waktu itu ada bencana banjir di wilayah Trenggalek. Dari bencana tersebut terbesit untuk menjadi pribadi bermanfaat bagi sesama dan memutuskan berangkat membantu warga terkena imbas dari bencana alam tersebut. “Awalnya belum tahu sama sekali dengan Tulungagung, tahunya hanya Surabaya. Sampai bertanya dengan kakak saya yang sudah duluan ke sini. Waktu itu ditunjuk sama teman-teman menjadi koordinasi, hingga akhirnya pada tahun 2005 masuk ke LMI,” ungkapnya.

Awalnya istri Susanto masih belum bisa menerima pilihannya. Sebabnya karena sering ditinggal untuk membantu korban bencana. Waktu diperlukan dalam membantu korban bencana minimal tiga hari. Setelah diberi pengertian dan tergabung dalam LMI ini, istri Susanto dapat memahami pentingnya memberikan manfaat ke sesama. Tak hanya itu, tiga bulan setelah berada di Tulungagung, mendapatkan rezeki dengan mengetahui kabar bahwa istrinya telah hamil untuk kedua kali. “Saya mewakafkan diri saya untuk di LMI ini, dengan ladang dakwah dalam bidang kebencanaan. Dengan niat untuk memberikan manfaat bagi sesama, insya Allah berapa pun itu didapat pasti barokah. Alhamdulillah setelah bertahun mengabdikan diri untuk sesama, saya diberi mandate menjadi manager LMI di Tulungagung ini,” ujarnya.

Kini Susanto diberi tanggungjawab sebagai Manager Laskar Penanggulangan Bencana di LMI Tulungagung. Tak hanya itu aktif untuk membagikan pengalamannya selama menjadi relawan kebencanaan pada sekolah-sekolah tinggi se-Indonesia. Meski pun demikian, dia tetap aktif terjun secara langsung ke wilayah-wilayah yang terdampak bencana alam baik di Indonesia maupun di negara lain. “Makna hidup itu terbersit dari kejadian-kejadian yang menurut kita paling kelam dalam hidup kita. Jadi harus sadar, pentingnya hidup itu jika dapat bermanfaat bagi orang lain,” tutupnya. (*/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.