Semakin Dekat dengan Pembaca

Temukan Tengkorak di Ladang Tebu

KABUPATEN BLITAR – Andriyani, 53, buruh tebang tebu di Desa Ngeni, Kecamatan Wonotirto, mendadak membuat warga gempar. Itu setelah dirinya menemukan tengkorak manusia dan beberapa tulang lainnya. Itu saat dirinya menebang tebu di petak 108 A RPH Kepek Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Lodoyo Barat (7/12) sekitar pukul 17.00.

Tengkorak itu kemudian diidentifikasi oleh tenaga medis puskesmas. Sementara polisi dan perangkat desa juga mengumumkan temuan tersebut kepada warga. Setelah ditelusuri, tengkorak itu adalah Kasiran, 75, warga setempat. Pihak keluarga menyatakan korban sudah hilang sejak April lalu.

Keponakan korban, Sumiati menyebut, sang paman menderita pikun dan kerap berkeliaran jauh dari rumah. April lalu, korban mendadak pergi tanpa pamit. Hal itu membuat pihak keluarga resah dan mencari ke rumah warga. Namun, hasilnya nihil.

“Biasanya menggunakan celana pendek merah. Saya yakin itu miliknya,” ujarnya (8/12).

Kematian korban memang janggal. Pasalnya, kondisi tengkorak yang ditemukan saksi sudah bersih. Tak ada struktur kulit atau daging yang menempel. Selain itu, posisi tulang korban berada di antara ladang tebu, jauh dari permukiman warga.

Kasi Humas Polres Blitar Iptu Udhiono mengaku, awalnya saksi yakni Andriyani sedang menebang tebu di ladang milik tetangganya, Riono. Di tengah aktivitasnya, tampak sebuah tengkorak kepala di tanah dan tertutup dedaunan tebu. Terkejut, dia lantas memanggil rekannya, Kadianto, untuk memeriksa bersama. Rupanya benar bahwa tengkorak itu kepala manusia.

Temuan itu membuat Andriyani dan Kadianto berinisiatif mencari. Benar saja, tak jauh dari lokasi temuan tengkorak, mereka mendapati tulang pinggul, tulang paha, dan salah satu tulang betis alias kering. Jarak lokasi masing-masing tulang itu sekitar 10 meter dari lokasi temuan tengkorak. Mereka juga menemukan sebuah celana pendek warna merah, 15 meter dari tulang paha.

“Kemungkinan korban yang pikun, diduga lupa jalan pulang hingga meninggal dalam kondisi kelaparan,” jelasnya.

Letak tulang-belulang korban yang berserakan, lanjut Udhiono, diduga akibat aktivitas hewan buas. Sebab, menurut pengakuan warga sekitar, lokasi tersebut masih liar. Karena itu, tidak menutup kemungkinan bahwa jasad korban sempat dimakan oleh binatang buas.

Temuan tulang tesebut kemudian diserahkan kepada pihak keluarga lantaran enggan untuk dilakukan tahap otopsi. “Anak korban membuat surat pernyataan dan korban dimakamkan di TPU terdekat,” tandasnya. (luk/c1/wen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.