Semakin Dekat dengan Pembaca

Tersangka Pembunuhan di Junjung, Pernah Menjadi Petarung Jujitsu

Tulungagung – Tersangka Mustakim, pelaku pembunuhan gadis asal Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, memilih senjata tajam (sajam) parang untuk mematikan korban. Dari hasil pemeriksaan polisi, senjata tersebut dibeli secara online.

Benda tajam dengan panjang sekitar 1 meter itu juga digunakan untuk membunuh korban dengan tiga kali tusukan. Yakni di bagian perut dan punggung hingga mengakibatkan keluarnya darah yang banyak.
“Dia (Mustakim, Red) memang tidak ada riwayat kriminal. Tersangka merupakan petarung dan pernah mengikuti kompetisi tarung bebas. Bahkan, olahraga yang ditekuninya yakni Jujitsu, tapi beberapa tahun sudah tidak aktif. Kesehariannya sebagai tukang kuli bangunan di desanya,” ungkap Kasatreskrim Polres Tulungagung AKP Agung Kurnia Putra, kemarin (23/1).

Dia menjelaskan, dimungkinkan latar belakang itu yang membuat tersangka menjadikan parang sebagai alat untuk membunuh korban. Senjata itu tidak lama dimiliki tersangka dan sengaja sebagai koleksi.
Awalnya, parang berwarna putih. Namun, karena tersangka membuang senjata tersebut di sungai, parang berganti warna menjadi hitam. Parang tersebut ditemukan pemancing seminggu sebelum rilis kasus pembunuhan ini. Empat hari setelah ditemukannya parang, polisi menemukan sarung pembungkus senjata itu.

“Parang yang digunakan untuk membunuh korban memang panjang. Begitu digunakan untuk menusuk korban, langsung tembus cukup dalam,” terangnya.
Sementara itu, menurut psikolog di Tulungagung, Ifada Nurrohmania, pelaku mengalami emosi memuncak dan dalam kondisi tidak terkontrol. Kata-kata yang diucapkan korban bisa saja memicu pembunuhan, karena pelaku tersinggung orang tuanya dibandingkan dengan Afifta Karismaningrum (AK). Dari hal-hal itu, lalu ditambah peristiwa yang dialami pelaku sebelumnya.

Apalagi, waktu itu pelaku terpengaruh minuman keras (miras). Pelaku mengonsumsi miras cukup banyak sejak berwisata bersama korban hingga berada di rumah temannya. Dari catatan polisi, ada sekitar lima gelas miras yang dihabiskan pelaku sebelum membunuh korban.

“Ejekan kepada tersangka bisa menjadi pemantik yang kuat untuk membunuh korban. Apalagi, ketika diejek korban, pelaku tidak melawan balik kata-kata korban. Maka, emosinya menumpuk dan terjadi tindakan kejinya yang mengakibatkan korban kehilangan nyawa,” kata Ifada, sapaan perempuan tersebut.

Untuk diketahui, warga Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, pada Senin 19 Desember 2022 pagi digegerkan dengan tewasnya AK di rumahnya. Dia ditemukan pertama kali olah sang ayah ketika akan pamit ke pekarangan. Pada lokasi kejadian ditemukan sejumlah luka di tubuh korban dan ceceran darah. Dari hasil otopsi, ada 10 tusukan pada tubuh gadis yang belum lama menyandang gelar sarjana itu.

Tersangka akhirnya ditangkap polisi pada 16 Januari lalu ketika berada di Blitar, setelah hampir sebulan bersembunyi. Polisi kesulitan mendeteksi tersangka dan sempat mengalami minimnya petunjuk, meskipun ada 20 saksi yang telah diperiksa.(jar/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.