Semakin Dekat dengan Pembaca

The Home of Wajak Man, Nama Usulan untuk Geopark Tulungagung oleh Kementerian ESDM

TULUNGAGUNG- The Home of Wajak Man, itulah usulan sementara tim peneliti dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk geopark Tulungagung. Meski demikian, tak menutup kemungkinan akan muncul nama baru apabila dipandang lebih representatif.

Kepala Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Perencanaan Pembangunan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tulungagung, Ridwan mengatakan, dalam pembahasan geopark Tulungagung muncul nama yakni The Home of Wajak Man yang diusulkan oleh tim peneliti dari Kementerian ESDM. Usulan nama tersebut karena dianggap nama yang sudah mendunia. Sebelumnya juga sempat diusulkan nama Geomarmer, tapi setelah melalui proses akhirnya berganti menjadi The Home of Wajak Man.

“Nama tersebut bukanlah final. Masih dimungkinkan untuk terjadi perubahan pada pembahasan lanjutan, kalau ada kemungkinan yang lebih baik,” ungkapnya.

Progres pembentukan geopark Tulungagung kini masih proses menunggu total 19 geosite Tulungagung memperoleh sertifikat geoheritage. Setelahnya akan dilakukan proses delineasi atau membuat Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG) pada masing-masing geosite.

Sementara 19 geosite tersebut tersebar di beberapa wilayah di Tulungagung, seperti Gunung Budeg, ada juga di Kecamatan Kalidawir, Pucanglaban, Besuki, Gondang, dan Pagerwojo.

Sebelumnya, pada awal kajian yang dilakukan, geosite berjumlah 13. Namun setelah proses berjalan, terakhir ada 19 geosite yang didaftarkan untuk memperoleh sertifikat geoheritage.

“Kita akan lakukan koordinasi dengan pihak kecamatan dan juga warga sekitar kawasan geosite. Itu untuk tetap menjaga warisan geosite tersebut, serta meminimalkan problem di tingkat bawah,” ungkapnya.

Sementara itu, sebagian kawasan geosite tersebut terdiri dari hak milik Perhutani serta sertifikat hak milik (SHM) pribadi yang rencananya akan dilakukan pertambangan. Nantinya kawasan tersebut akan diminta beberapa meter persegi untuk dibangun monumen. Guna menunjukkan bahwa area tersebut merupakan warisan geologi. “Nanti kita kerja sama dengan Perhutani serta pemilik lahan geosite,” katanya.

Setelah sertifikat geoheritage turun dan proses delineasi rampung, maka akan ada pengajuan sertifikat geopark ke Kemenko Maritim dan Investasi untuk ditetapkan. Namun, pihaknya belum dapat memastikan kapan itu akan terjadi, karena mempertimbangkan kerumitan dan permasalahan nanti pada saat di lapangan.

Pada tahun 2023 nanti ditargetkan proses delinasi sudah selesai. “Karena delineasi satu geosite itu memerlukan waktu sekitar tiga bulan,” katanya. (mg1/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.