Semakin Dekat dengan Pembaca

Tiga Pasang Mahasiswa Kena Grebek di Kontrakan, Masing-Masing Diganjar Denda Rp 500 Ribu

KEDUNGWARU, Radar Tulungagung – Tiga pasangan mahasiswa nakal digrebek warga pada Senin malam (2/1) di sebuah rumah kontrakan di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru. Mereka dicurigai melakukan tindakan asusila. Hingga kemarin (4/1) dilakukan audiensi oleh pemerintah desa dan diberikan hukuman denda Rp 500 ribu.

Bahkan suasana balai desa kemarin masih sempat tegang, lantaran ketiga pasangan dilakukan pemeriksaan. Mereka diperiksa kurang lebih satu jam dengan di tengahi Kepala Desa Plosokandang, Agus Waluya, Bhabinkamtibmas dan Babinsa. “Memang kontrakan yang berada di Dusun Manggisan ini telah lama diintai oieh warga. Padahal kontrakan itu ditempat mahasiswa laki-laki, namun diatas jam 10 selalu ada perempuan yang masuk rumah,” ujar Agus yang ditemui di kantor Desa Plosokandang.

Dia melanjutkan, bila kadang-kadang perempuan masuk rumah itu cuma satu jam, lalu keluar. Namun waktu itu pukul 23.30 WIB usai perempuan masuk dua jam sebelumnya, pintu ditutup hingga tidak keluar. Warga yang mengetahui langsung menghubungi Agus sebagai pemimpin wilayah.

Agus mengintruksikan ketua RT dan warga untuk menangkap dan membawa mahasiswa tersebut ke balai desa untuk untuk dimintai keterangan. Sampai di balai desa, tiga pasangan mahasiwa itu dilakukan pendataan, ternyata dari data diri bila semuanya berasal dari Kabupaten Lamongan. Selain itu, mereka mengaku masih semester tujuh belajar di kampus yang masih di Desa Plosokandang. “Berdasarkan musyawarah dengan warga Desa Plosokandang dan pihak kampus dari mahasiswa tersebut, bila ada mahasiswa yang berbuat tidak senonoh diberikan tindakan tegas. Hal itu dengan denda, tiap orang sebesar Rp 500 ribu,” tegas Agus.

Namun pihak pemerintah desa sebenarnya tidak mendenda, karena yang mengetahui warga otomatis pemdes tidak berani melarangnya. Oleh karena itu, didenda sesuai aturan kampus tempat mereka belajar. Namun karena kejadian seperti ini juga sering, kadang-kadang karena warga kasihan, biasanya tidak sampai Rp 500 ribu.

Selain dilakukan denda, pihak pemdes, menyuruh mahasiswa yang tidak senonoh itu harus membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi lagi, untuk pembinaan dan efek jera. Menurut Agus kejadian seperti Ini sudah 10 kali ini ditemuinya,dengan latar belakang macam-macam. Bila kali Ini dalam satu rumah kontrakan, namun tidak satu kamar.

Namun beberapa waktu lalu juga pernah ada yang satu kamar di rumah kos-kosan dan denanya lebih ekstrem. Pasangan mahasiswa yang tertangkap satu kamar dendanya Rp 1 juta tiap orang. Kalau keberatan dalam membayar, mahasiswa itu dibawa ke kampus, karena melakukan perbuatan yang melanggar norma. “Sebenarnya pemdes sudah menanggulangi mahasiswa nakal, dengan tiap kos diberi edaran, agar ada petugas jaga. Apalagi pemilik kos ada yang orang luar kota, luar desa, namun juga ada yang rumah pemilik kos tidak jauh dari rumah,” tandasnya.

Adanya penjaga di rumah kos itu menurut Agus sangat penting, karena untuk keamanan dan ketertiban. Bila ada mahasiswa yang pulang malam ada yang membuka pagar dan dengan harapan bisa mengontrol, mahasiswa cowok dan cewek tidak melakuka tindakan yang tidak diinginkan.

Namun memang kenyataannya anak-anak banyak yang bandel dan nakal, apalagi pemilik kos telah sering memberi himbauan. Namun ada juga pemilik kos yang rumahnya luar desa, sehingga kos tersebut disalahgunakan. “Jelasnya pemdes berupaya masimal untuk mengatasi kenalakan remaja, terutama di kos atau kontrakan yang dicurigai tindakan asusila. Kami rencana akan mengumpulkan pengusaha kos untuk mengantisipasi hal tersebut,” pungkasnya.(jar/rka)

Leave A Reply

Your email address will not be published.