Semakin Dekat dengan Pembaca

Tiga Warga di Blitar Suspek Difteri

Satu Pasien Anak-Anak, Tunggu Hasil Pemeriksaan Laboratorium

KOTA BLITAR – Potensi penyakit difteri masih ada. Buktinya, tiga orang dilaporkan suspek atau diduga terjangkit penyakit yang menyerang saluran pernapasan itu.

Salah satu pasien diketahui masih anak-anak. Seperti yang disampaikan oleh Subkoordinator (Subko) Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, Endro Pramono. Dia menjelaskan, satu dari tiga pasien berstatus suspek itu merupakan anak-anak yang berasal dari Kecamatan Srengat.

Laporan tersebut diterima kemarin (19/1) dari fasilitas layanan kesehatan (fasyankes). Pihaknya langsung melakukan pemeriksaan terhadap pasien. “Sudah kami tangani dan sekarang dirawat di RSUD Srengat. Semoga hasilnya negatif dan tidak sampai positif,” ujar Endro kepada Koran ini, kemarin.

Selain satu pasien anak-anak, satu warga Kecamatan Srengat juga dilaporkan berstatus suspek difteri. Menurutnya, pasien termasuk golongan usia dewasa dan sudah menjalani perawatan intensif di rumah sakit yang sama. Kemudian, satu suspek lainnya dari Kecamatan Kademangan.

Masing-masing pasien suspek itu mengalami gejala pada rongga tenggorokan. Menurut pantauan tim medis, terdapat lapisan tipis berwarna abu-abu di area tenggorokan. Ini salah satu indikasi terpapar difteri. Namun, lanjut Endro, pihaknya masih harus memastikan melalui pemeriksaan di rumah sakit. “Semoga hasil pemeriksaan negatif. Tidak sampai terpapar,” terangnya.

Untuk diketahui, difteri merupakan infeksi bakteri pada hidung dan tenggorokan. Meski minim gejala, umumnya penyakit ini ditandai dengan munculnya selaput abu-abu yang melapisi amandel. Difteri, jelas dia, tergolong penyakit menular berbahaya dan berisiko pada jiwa. Jika tidak ditangani serius, maka bakteri penyebab difteri dapat menyebarkan racun yang merusak organ penting. Seperti jantung, ginjal, hingga otak.

Terkait tiga kasus suspek tersebut, masih dilakukan pemantauan kondisi pasien. Pihaknya mengaku belum mengetahui dari mana sumber gejala yang menjangkit pasien. Namun, jika berkaca pada kasus difteri sebelumnya, seseorang bisa tertular saat di perjalanan dengan udara terkontaminasi virus. “Atau bisa juga di daerah yang terpapar difteri, lalu terjangkit karena kontak erat. Untuk itu kami masih tunggu hasilnya,” kata pria ramah ini.

Sebagai penanganan lanjutan, tambah dia, dinkes mempersiapkan vaksinasi outbreak response immunization (ORI) untuk masyarakat. Vaksinasi ini untuk mengantisipasi sebaran penyakit difteri. “Kalau memang positif dan kontak eratnya juga ada yang positif, kami beri vaksin ORI. Itu vaksin respons adanya kasus positif,” tandasnya.

Untuk diketahui, pada 2016 lalu, kasus difteri sempat dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) di Kabupaten Blitar. Jumlah kasusnya tertinggi di Jawa Timur. Yakni, mencapai 56 kasus. Setahun berikutnya, jumlah kasus turun drastis menjadi sedikitnya sembilan kasus. (luk/c1/sub)

Leave A Reply

Your email address will not be published.