Semakin Dekat dengan Pembaca

Tolak Hapus Postingan Medsos

KABUPATEN BLITAR – Rangkaian penyelidikan terkait kasus dugaan pemberitaan bohong sudah dilakukan. Kemarin (28/12), Gendro Wulandari, penggarap lahan bekas Perkebunan Karangnongko, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, diperiksa sekitar lima jam di Polres Blitar Kota. Tak hanya seputar media sosial, perempuan yang beberapa waktu lalu bertemu Bupati Rini Syarifah ini juga ditanya soal pembangunan hunian di lahan bekas perkebunan tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun Koran ini, Gendro Wulandari mendatangi Polres Blitar Kota sekitar pukul 09.30. Namun, agenda permintaan keterangan dilakukan sekitar pukul 12.30. “Iya, mulai masuk ruangan itu habis Dehur dan selesai saat Magrib, jam lima sore lebih,” ujarnya kepada Koran ini kemarin (29/12).

Dia mengaku tidak banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh petugas. Namun, ada beberapa pertanyaan yang membutuhkan penjelasan cukup panjang. Karena itu, proses permintaan keterangan tersebut berakhir jelang petang. “Tanya biodata, mulai dari sekolah sampai jumlah anggota keluarga juga,” katanya.

Jumlah akun media sosial juga masuk dalam listing pertanyaan petugas. Namun, untuk beberapa hal, Gendro mengaku tidak bisa memberikan informasi. Misalnya seputar alamat email. “Pak polisi juga minta agar saya menghapus posting-an saya di media sosial, tapi maaf saya tidak bisa melakukan itu,” ungkapnya.

Selain itu, Gendro juga mengaku ditanya soal alasan menguasai lahan dan mendirikan bangunan yang kini ditempati oleh keluarga. Menurut dia, hal itu adalah materi yang relatif mudah untuk dijawab. Sebab, ada banyak saksi yang bisa memberikan dukungan atas jawabannya. “Semua orang tahu, saya lahir di Dusun Karangnongko. Jadi, kalau ditanya apa dasar kami bangun rumah atau menguasai lahan itu sangat jelas,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gendro juga memberikan jawaban perihal lahan hunian yang kini bersertifikat atas nama orang lain. “Rumah yang mana? (Gendro menirukan pertanyaan polisi, Red). Saya jawab yang di RT 2 RW 9 Dusun Karangnongko Bulu,” tuturnya.

Adapun terkait soal dugaan perusakan tanaman oleh preman yang menjadi salah satu pemicu dugaan pemberiataan bohong, tegas Gendro, sudah memberikan klarifikasi atau jawaban dengan sangat jelas. Bahkan, dia mengaku juga sudah menyebutkan orang-orang yang melakukan perusakan tersebut.

Dari sekian pertanyaan, ada beberapa poin yang menurutnya sedikit berbeda dari udangan permintaan keterangan tersebut. Yakni, kasus dugaan penipuan yang juga masih berkaitan dengan lahan bekas perkebunan. “Saya sebenarnya juga tahu yang dimaksud petugas. Tapi, saat saya minta bukti tidak diberikan,” ujarnya.

Sayang, hingga Koran ini selesai ditulis sekitar pukul 18.40, belum ada konfirmasi yang detail dari pihak kepolisian perihal pemeriksaan ini. Kasat Reskrim Polres Blitar Kota AKP Galih Putra Samudra mengaku belum bisa memberikan informasi lantaran masih dalam proses penyelidikan. “Nanti perkembangan kasus akan kami beritahu,” tulisnya melalui pesan WhatsApp.

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu Gendro Wulandari menggelar aksi bermalam di depan kantor bupati Blitar. Setelah empat hari tiga malam, warga Desa Modangan ini akhirnya bertemu dengan Bupati Rini Syarifah. Sesudah pertemuan ini, konon pemerintah akan membentuk tim pencari fakta untuk mengurai persoalan di lahan bekas perkebunan Karangnongko. (hai/c1/ady)

Leave A Reply

Your email address will not be published.