Semakin Dekat dengan Pembaca

TRANSFORMASI PERPUSTAKAAN BERBASIS INKLUSI SOSIAL, SOLUSI CERDAS PEMULIHAN EKONOMI

Oleh: Agus Sutoyo (Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Perpustakaan Nasional RI)

Gran Melia Kuningan Jakarta menjadi saksi pertemuan orang-orang hebat yang akan menyiapkan berbagai program dan kegiatan perpustakaan menjadi lebih bersinar lagi di tahun-tahun mendatang. Ya, kali ini Perpustakaan Nasional kembali mengadakan rapat kerja teknis (rakernis) yang dihadiri Kepala Perpustakaan Nasional dan seluruh jajaran pimpinan tinggi madya, pratama, pustakawan utama, administrator, pengawas, koordinator, dan subkoordinator. Tidak kurang 185 sumber daya manusia yang terlibat dalam hajat tahunan di jajaran Perpustakaan Nasional akan mengawal dan melaksanakan kebijakan Kepala Perpustakaan Nasional di tahun 2023 ini. Ajang rakernis ini merupakan salah satu momentum evaluasi capaian kinerja di tahun 2022 dan rencana aksi program di tahun 2023.

Menarik dari momentum ini, saya mencatat, beberapa hari lalu di minggu pertama, anggota Dewan Komisi X DPRRI setelah menjalani masa resesnya kembali melakukan rapat dengar pendapat dengan mitra kerjanya yaitu Perpustakaan Nasional. Rapat kerja pertama di tahun 2023 itu adalah rapat berkaitan dengan evaluasi dan capaian kinerja tahun 2022. Rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi X Abdul Fikri Faqih itu sangat mengapresiasi berbagai program dan kegiatan yang telah dicapai Perpustakaan Nasional dengan kategori sangat memuaskan. Para anggota dewan yang hadir itu sebagian besar memberikan apresiasi atas kesuksesan pada program-program prioritas nasional yang memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat.

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) diharapkan dapat memenuhi dan memberi perhatian atas isu kebutuhan pemenuhan tenaga perpustakaan, yaitu pustakawan di daerah-daerah. Kendala dan permasalahan utamanya terkait isu pemenuhan tenaga pustakawan, mengingat ketercukupan tenaga perpustakaan menjadi salah satu unsur penting upaya pembangunan literasi masyarakat. Pada tahun 2022, daya serap anggaran Perpusnas mencapai 98,41% dari total anggaran 660.304.500.000 rupiah. Sementara untuk anggaran tahun 2023 ada kenaikan menjadi 723.040.156.000 rupiah. Yang menarik dari rapat itu, salah satu anggota yang juga aktor terkenal sineas tanah air Rano Karno atau Bang Doel -sapaan akrabnya saat ini- karena kesuksesan film Si Doel Anak Sekolahan mengatakan bahwa Perpusnas sangat luar biasa, capaian kinerjanya yang tinggi walaupun dengan anggaran yang terhitung kecil bila dibanding dengan kementerian/lembaga lainnya. Bahkan, beliau sangat berharap kepada ketua dan jajaran Komisi XGran Melia Kuningan Jakarta menjadi saksi pertemuan orang-orang hebat yang akan menyiapkan berbagai program dan kegiatan perpustakaan menjadi lebih bersinar lagi di tahun-tahun mendatang. Ya, kali ini Perpustakaan Nasional kembali mengadakan rapat kerja teknis (rakernis) yang dihadiri Kepala Perpustakaan Nasional dan seluruh jajaran pimpinan tinggi madya, pratama, pustakawan utama, administrator, pengawas, koordinator, dan subkoordinator. Tidak kurang 185 sumber daya manusia yang terlibat dalam hajat tahunan di jajaran Perpustakaan Nasional akan mengawal dan melaksanakan kebijakan Kepala Perpustakaan Nasional di tahun 2023 ini. Ajang rakernis ini merupakan salah satu momentum evaluasi capaian kinerja di tahun 2022 dan rencana aksi program di tahun 2023.akawannya harus kreatif, inovatif, dan menguatkan sisi public relations serta marketing perpustakaan sehingga mampu memberikan mercusuar bagi masyarakat dan juga wisatawan asing yang datang ke daerah tersebut.

Bang Doel berharap literasi kita ke depan semakin hebat dan perpustakaanlah yang mampu menjadikannya itu hebat. Salut dan apresiasi untuk Perpustakaan Nasional. Memang benar literasi itu adalah bagian dari peran pentingnya Perpusnas saat ini. Karena literasi yang mampu mengubah paradigma lama perpustakaan. Literasi tidak hanya mengandalkan satu dua kemampuan dan keterampilan, tetapi menuntut adanya beragam kemampuan dan keterampilan yang diupayakan untuk dimiliki dan dikembangkan, baik secara perorangan maupun kolektif dengan memanfaatkan berbagai media dan berada dalam bingkai waktu dan konteks sosial budaya politiknya.

Jika kita mengacu kepada UNESCO terkait pengertian literasi ini, ada tiga kunci utamanya. Pertama, literasi adalah tentang penggunaan dan masyarakat menjadikannya sebagai sarana berkomunikasi dan berekspresi melalui berbagai media. Kedua, literasi bersifat jamak, dipraktikkan dalam konteks tertentu untuk tujuan tertentu dan menggunakan bahasa tertentu. Ketiga, literasi melibatkan kontinum pembelajaran yang diukur pada tingkat kemahiran yang berbeda.

Oleh karenanya, sangat tidak memungkinkan jika kita hanya menggunakan satu atau dua instrumen dan variabel, dimensi, indikator, subindikator tertentu untuk menggeneralisasikan sebuah masyarakat itu literat atau tidak literat, rendah atau tinggi literasinya. Kita harus melihatnya secara komprehensif. Terdapat kecakapan yang belum dimiliki oleh sesorang maupun kelompok masyarakat. Namun, harus diakui pula bahwa mereka pasti mempunyai kecakapan yang lain dan bisa dicapai serta dikembangkan untuk meningkatkan literasinya. Stigmatisasi literat, tidak literat, rendah literasi dengan instrumen literasi yang monolitik tentunya tidak akan menyelesaikan persoalan-persoalan literasi masyarakat, tetapi justru akan menimbulkan problem disisi yang lainnya dan berimplikasi luas baik secara ideologis, politis, sosial, dan budaya.

Namun untuk mencapai tiga kunci utama itu, sebenarnya ada 6 (enam) literasi dasar yang harus dimiliki oleh setiap individu menurut UNESCO. Pertama, Literasi Baca Tulis. Literasi baca tulis adalah kecakapan untuk memahami isi teks tertulis, baik yang tersurat maupun yang tersirat untuk mengembangkan potensi diri. Kedua, Literasi Numerasi. Literasi numerasi adalah kecakapan untuk menggunakan berbagai macam angka dan simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari. Ketiga, Literasi Sains. Literasi sains adalah kecakapan untuk memahami fenomena alam dan sosial di sekitar kita serta mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah. Keempat, Literasi Digital. Literasi digital adalah kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi. Kelima, Literasi Finasial. Literasi finasial adalah kecakapan untuk mengaplikasikan tentang konsep, resiko, keterampilan, dan motivasi dalam konteks finansial. Keenam, Literasi Budaya dan Kewargaan. Literasi budaya dan kewargaan adalah kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa serta memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Namun, literasi yang selalu dikedepankan Kepala Perpusnas sejak beberapa waktu lalu adalah kedalaman pengetahuan seseorang terhadap suatu subjek ilmu pengetahuan yang dapat diimplementasikan dengan inovasi dan kreativitas yang tinggi untuk memproduksi barang dan jasa yang berkualitas dan dapat dipakai untuk memenangkan persaingan global. Jadi, literasi menurut Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando bukan hanya sekadar pandai baca tulis, melainkan kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermutu, yang bisa mengantarkan bangsa Indonesia sebagai bangsa produsen bukan konsumen.

Transformasi Perpustakaan

Kepala Perpusnas telah menetapkan tagline Perpusnas tahun 2023 yaitu Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, Solusi Cerdas Pemulihan Ekonomi Masyarakat Pasca Pandemi Covid-19 dapat dilaksanakan dengan cahaya kesuksesan. Mengapa demikian, karena program prioritas ini telah banyak dilaksanakan dan benar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat banyak. Karena dengan transformasi perpustakaan ini, kegiatan-kegiatan inklusi sosial ini dapat menggerakan masyarakat untuk hidup lebih baik dan sejahtera melalui intervensi perpustakaan.

Inovasi yang dilakukan Perpusnas melalui kegiatan inklusi sosial ini yang mengaitkan kegemaran membaca dengan upaya meraih sukses di masa depan merupakan satu hal yang sangat positif. Karena memang sebenarnya transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang telah dijalankan ini merupakan jawaban bagi masyarakat sebagai alternatif meningkatkan perekonomian. Bahkan, anggota Komisi X DPRRI Sofyan Tan dan Purnomosidi sangat mengapresiasi untuk terus ditingkatkan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ke depannya, karena memang manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat.

Seperti kita ketahui, perpustakaan memiliki peran penting sebagai pusat belajar masyarakat. Sebagai penyedia layanan yang sesuai dengan kemajuan teknologi dan komunikasi, serta kebutuhan masyarakat, perpustakaan terus berinovasi dan bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Dengan berbasis inklusi sosial, perpustakaan memperkuat perannya dalam meningkatkan literasi masyarakat. Dalam upaya meningkatkan kompetensi pengelola perpustakaan serta upaya perpustakaan guna meningkatkan pemberdayaan masyarakat, maka kegiatan inklusi sosial adalah pendekatan perpustakaan berbasis sistem sosial/masyarakat yang ada di lingkungan perpustakaan (social system approach) atau pendekatan kemanusiaan (humanistic approach).

Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan upaya meningkatkan akses kepada masyarakat agar mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Dengan begitu terjadi proses belajar yang mendorong kreativitas dan inovasi agar menjadi produktif bagi kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Program inklusi sosial yang hadir di tengah masyarakat dan mengubah paradigma, bahwa perpustakaan bukan hanya sebagai ruang untuk membaca, melainkan sebuah ruang yang mengubah peradaban, pola pikir, berkreativitas, dan hal lainnya dapat bertemu dan berkolaborasi.

Sebagai elemen penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, perpustakaan berandil besar dalam transfer ilmu pengetahuan (transfer knowledge) kepada masyarakat. Melalui perpustakaan, masyarakat tidak hanya berkumpul, tetapi bisa berdiskusi, melakukan kreativitas, berinovasi, dan berkolaborasi. Hanya bangsa yang memiliki peradaban yang mampu menempatkan perpustakaan sebagai institusi literasi yang mempunyai peran sentral dalam membangun masyarakat literet (literate society).

Literasi akan meningkatkan produktivitas masyarakat. Karena dengan penguatan literasi individu, maka akan terjadi perubahan pengetahuan dan perilaku individu yang akan berdampak pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan. Transformasi perpustakaan yang berbasis inklusi sosial akan ditandai dengan adanya ketersediaan dan kemudahan akses bahan pustaka dan sumber informasi  bermutu untuk masyarakat. Masyarakat dapat memanfaatkan perpustakaan untuk berbagi pengalaman dan melatih keterampilan agar memperoleh  keahlian dan pekerjaan untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Maka, peningkatan program dan kegiatan di tahun 2023 dengan mengusung tagline Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, Solusi Cerdas Pemulihan Ekonomi Masyarakat Pasca Pandemi Covid-19 ini, sejatinya menjadi ruang sinergitas dan kolaboratif yang semakin kuat antara Perpusnas, perpustakaan-perpustakaan di daerah, stakeholder terkait, dan masyarakat di seluruh tanah air. Dari kesejukan Gran Melia Kuningan Jakarta, solusi cerdas dilahirkan untuk program-program perpustakaan yang unggul untuk Indonesia yang lebih hebat. Salam Literasi.***

Leave A Reply

Your email address will not be published.