Semakin Dekat dengan Pembaca

Tuberkolosis Tulungagung Lampaui Target Provinsi, Varian Silent Disease Sulit Terdeteksi

Tulungagung – Pencarian masyarakat konfirmasi tuberkulosis (TB) belum melampaui target nasional. Kendati demikian, capaian kasus konfirmasi penyakit itu di Tulungagung telah melampaui target dari provinsi. Terdapat kendala dalam pencarian kasus konfirmasi TB akibat varian silent disease.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Kasil Rokhmad mengatakan, capaian pencarian kasus TB masih belum maksimal.
Menurut dia, terdapat target tertentu dari Provinsi Jawa Timur (Jatim) dalam pencarian TB di tiap kabupaten atau kota. “Karena memang berdasarkan analisis itu, sekian orang terkena TB. Maka, temuan TB semakin banyak semakin bagus, karena butuh kerja serius untuk pencarian masyarakat terinfeksi TB itu,” jelasnya kemarin (30/12).

Sangat dimungkinkan masih terdapat sebagian masyarakat yang terinfeksi TB belum terjaring pada pencarian kasus konfirmasi TB tersebut.
Berdasarkan capaian target, pencarian kasus konfirmasi TB di Tulungagung telah melampaui target yang diberikan oleh provinsi. “Kalau target dari provinsi telah kita lampaui, tapi untuk target nasional masih belum. Saya lupa angkanya, kabupaten atau kota lain masih banyak yang di bawah kita,” ucapnya.

Untuk pencarian masyarakat terkonfirmasi TB, dia mengaku kesusahan menemukan temuan masyarakat konfirmasi TB. Sebab, terdapat TB jenis silent disease. TB jenis tersebut memiliki cirri pertumbuhan penyakit lambat dan tidak menimbulkan gejala, tetapi tetap menular. “Itu penyakitnya lambat, tidak begitu memberikan gejala, tapi tetap memberikan penularan. Jadi ya temuannya agak susah,” paparnya.

Untuk memperhitungkan jumlah kasus TB perlu perhitungan jeli berdasarkan epidemologi dan riwayat kontak. Dengan perumusan tersebut baru menemukan capaian target kasus konfirmasi TB yang harus dicapai. “Pasti ada hitung-hitungan secara ahli berapa accident yang ada di sini, sehingga kita ada target yang harus dicapai,” ungkapnya.

Upaya dinkes dalam pencarian masyarakat konfirmasi TB, yakni dengan penyuluhan secara mendalam serta pembentukan kelompok sebaya. “Kalau ada gejala yang menunjukkan ke arah TB, itu harus diperiksa. Nah, ketika diperiksa pasien ini positif TB, riwayat kontaknya juga harus diperiksa. Jadi beranak pinak seperti itu, kita juga membentuk kelompok sebaya untuk masyarakat yang telah terbebas dari TB,” ucapnya.

Diketahui, masa pengobatan TB ini paling cepat selama enam bulan dengan konsumsi obat secara rutin. Jika menyalahi aturan konsumsi obat, maka akan menyebabkan resisten sehingga masa pengobatan semakin lama sekitar 1 tahun. “Kalau sudah resisten, pengobatannya lebih lama lagi, bias satu tahun,” tutupnya. (mg2/c1/din)

Leave A Reply

Your email address will not be published.